Sebelum Azami, ada dua ulama hadis yang menangkis pemikiran hadis Ignaz Goldziher, salah seorang orientalis awal. Dua ulama tersebut yaitu Dr Mustafa al-Siba’I dan Dr Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib. Kemudian munculah Azami yang membabat habis pemikiran para orientalis. Dalam disertasinya, Azami mematahkan argumen dan teori para orientalis yang berkaitan dengan kajian otentitas hadis.
Para orientalis yang dihabisi argumenya oleh Azami antara lain Robson, Wensink, Guillaume, dan Sachau. Tidak luput dari serangan Azami dua ‘’nabi’’ orientalis, yaitu Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht, yang juga dibabat habis teorinya.

Maka, tidak berlebihan bila Azami dikatakan sebagai sarjana Muslim yang pertama kali menghancurkan teori para orientalis secara besar-besaran. Orientalis yang dibabat teoriya sampai ke akar-akarnya yaitu Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht. Dua tokoh inilah yang dinilai paling bersemangat membabat Hadis Nabawi hingga membuat keraguan pada sebagain umat muslim.
Azami merupakan sosok ulama yang ideal. Sebab, meski belajar hadis dari para orientalis di Universitas Cambridge, dia tidak terbawa arus, justru menjadi bumerang bagi para orientalis sendiri. Azami beruntung karena dia diizinkan untuk mengkritik Joseph Schacht oleh pihak Universitas Cambridge. Ini berbeda dengan kawan sejawatnya Dr Muhammad Amin al-Mishri yang tidak dibolehkan mengkritik Joseph Schacht ketika dia mau menulis disertasi.
Reputasi keilmuan Azami tidak diragukan lagi, terlebih setelah dia memperoleh hadiah Internasional King Faisal dalam Studi Islam. Bahkan, dia mendapatkan pujian dari salah seorang orientalis terkemuka di Universitas Cambridge, yaitu Profesor AJArberry.
Dia menyatakan, “Tidak bisa diragukan lagi, bahwa penelitian hadis perlu mengevaluasi dan meneliti kitab hadis yang kecil-kecil, yang sudah ada sebelum munculnya enam kitab induk hadis termasuk Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Dalam hal ini, Azami telah mengerjakan kajiannya dengan sangat unggul serta mengikuti kaidah-kaidah penelitian ilmiah. Menurut saya, ini adalah penelitian ilmiah yang paling mengagumkan dan paling orisinil di masa sekarang.”
Begitulah sanjungan Prof. A.J. Arberry kepada Mustafa Azami.
