Salah satu ayat yang menarik perhatian Muthahhari adalah ayat 72 surat al-akhzab yang terjemahannya: “Dan sesungguhnya telah Kami tawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Mereka semua menolak untuk memikul amanat itu karena khawatir akan mengkhianatinya. Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh”. Sebuah ayat yang mengilhami penyair terkenal Persia, Hafizh asy-Syirazi untuk membuat sajak: “Langit tidak mampu memikul beban amanat, Si kerdil bernama aku dengan gila berjudi dengan itu.”
Barangkali kita menangkap bahwa ayat di surat al-akhzab itu hanya pekabaran biasa yang tidak menantang untuk berpikir lebih jauh. Akan tetapi, menurut Muthahhari, ayat itu menjelaskan suatu persoalan dengan menggunakan bahasa yang menimbulkan banyak pertanyaan dan memaksa akal manusia untuk berpikir. Amanat yang sudah sangat berat karena langit, bumi, dan gunung pun ternyata tidak sanggup memikulnya, tetapi mengapa manusia yang secara fisik tidak lebih kuat menyanggupinya.

Kata yahmiluha (memikulnya) dalam ayat itu mengartikan bahwa amanat yang dimaksud adalah sesuatu yang dapat diemban oleh manusia, tetapi mengapa manusia yang mengembannya lalu disebut zalim dan bodoh, bahkan dengan menggunakan mubalaghah atau hiperbola yang berarti sangat zalim dan sangat bodoh? Simbolis, multitafsir, dan [seolah] paradoks dalam ayat itu jelas semakin memastikan bahwa ayat itu – dan ayat-ayat senada yang jumlahnya sangat banyak dalam al-Quran – menyeru untuk berpikir.
Ajakan, seruan, dan perintah untuk berpikir tersebut, sesulit apa pun, secara langsung dialamatkan kepada manusia yang mengimaninya, karena merekalah mukhatab (audien) utama al-Quran. Manusia, dengan demikian, mempunyai dua tugas sekaligus: memikul amanat yang menurut Muthahhari berarti taklif (tanggungjawab) dan tidak bersifat material; dan berpikir serius mengkaji ayat-ayat al-Quran untuk memproduksi dan mencari makna yang sesuai. Sudah pasti tidaklah ringan memikul dua tugas itu, tetapi justeru dengan diserahkannya dua tugas itu, manusia diposisikan sangat penting dalam menata dan menentukan kehidupan dirinya serta membuat sejarahnya sendiri. Manusia adalah majikan bagi nasibnya sendiri.
Mungkinkah? Muthahhari mengatakan bahwa manusia adalah makhluk berakal dan sempurna penciptaannya. Ia adalah makhluk yang penciptaan dan pemeliharaan dirinya langsung bersumber dari dirinya. Ia memiliki kebebasan memilih, kemampuan mencipta, dan potensi mengemban tanggung jawab. Tetapi manusia juga makhluk sosial yang dilengkapi dengan nurani kemanusiaan.
Al-Quran, kata Muthahhari, berpandangan bahwa akal dan nurani manusia adalah bebas dan merdeka di hadapan keharusan masyarakat, keharusan sejarah, dan keharusan-keharusan lain, karena dalam pandangannya, fitrah Ilahi yang melapisi akal dan nurani kemanusiaan tetap dapat hidup dalam segala keadaan dan lingkungan. Al-Quran mengakui otentisitas manusia dan nurani kemanusiaan, karenanya ia tidak tunduk pada keharusan sejarah dan keharusan masyarakat, meski diakui bahwa keharusan-keharusan itu acapkali menjadi faktor-faktor yang berpengaruh.

