Relativitas dan Keberagaman
Perspektif Muthahhari tersebut memastikan bahwa manusia berikut akal dan nurani kemanusiaannya menjadi pusat darimana sejarah peradaban dibangun dan dikembangkan secara dinamis. Seluruh perkembangan dan perubahan bertitik-pangkal pada manusia dan nurani kemanusiaan. Begitu pula nilai kesesuaian dan penyimpangannya diukur dengan seberapa jauh perubahan (kenyataan) itu berarti (bermanfaat) bagi manusia dan kemanusiaan.

Pada sisi yang lain, dengan perspektif itu pula, Muthahhari berpandangan bahwa tidak seluruh ayat-ayat al-Quran, ajaran agama, dan nilai-nilai mengandung kemutlakkan, tunggal, bersifat tetap, dan tanpa perubahan, apalagi ideologi, konsep-konsep keilmuan, kebudayaan, dan peristiwa-peristiwa penting seperti ritual keagamaan.
Sebaliknya, Muthahhari percaya bahwa sebagian dari ayat-ayat bersifat dhonni, multi-tafsir, dan selalu mengalami perubahan pemaknaan. Demikian pula sebagian ajaran agama, nilai-nilai dan perilaku keagamaan yang tersusun atas dasar penafsiran ayat-ayat al-Quran dan perkembangan etnografis (kebudayaan) dan lingkungan ekologis tertentu, meminjam istilah Muthahhari, bersifat relatif.
Dalam salah satu tulisannya, Muthahhari mengajukan contoh relativitas nilai baik-buruk, akhlak, dan hijab yang berlaku di kalangan kaum muslim di berbagai tempat dan zaman yang berbeda. Ruang dan waktu sangat berpengaruh pada terjadinya relativitas itu. Bahkan Muthahhari lebih tegas mengatakan bahwa di luar semua itu, seperti ideologi, konsep-konsep keilmuan, kebudayaan, dan peristiwa-peristiwa keagamaan, seluruhnya bersifat relatif, diskursif, dan tidak pernah tetap karena mengandung instabilitas dalam dirinya, bukan hanya karena ruang dan waktu yang berbeda melainkan juga karena disusun atas dasar kenyataan dan kepentingan yang tidak tetap.
Pandangan Muthahhari tentang ralativitas tersebut mengingatkan kita pada dua hal. Pertama, partikularitas agama dan keberagamaan yang selama ini menjadi kenyataan historis di berbagai tempat, sebuah kenyataan yang diprihatinkan oleh pemeluk agama puritan dan selalu berusaha menunggalkannya. Andre Beatty yang melakukan penelitian mikro (di satu desa) di Banyuwangi, hanya sebuah contoh, mengaku betapa sulitnya menemukan totalitas, ketunggalan, dan ke-satu-an dalam kehidupan muslim di desa itu. Yang ada adalah partikularitas, diversitas, dan keberbagaian yang berjalan secara dinamis.
Kedua, otentisitas, orginalitas, dan keaslian seperti yang diklaim oleh sebagian pemeluk agama. Relativitas atau perubahan dinamis tersebut menyulitkan kita untuk membayangkan semua itu, karena proses silih-berganti yang terus-menerus berlangsung.
