Namaku Ananda

“Sudah sarapan, An?” tanya Bu Desi. Setiap pagi ketika akan mengajariku ilmu, Bu Desi selalu bertanya soal sarapan. Bu Desi bilang, orang yang ketika belajar dalam keadaan lapar, maka otaknya tidak akan fokus.

“Pastinya sudah dong,” jawabku penuh kegirangan. Bu Desi adalah satu-satu manusia selain Ibu dan Ayah yang kukenal hingga saat ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku tak tahu, berapa usiaku saat ini. Tapi agaknya, kurasai tubuhku semakin meninggi. Lama-lama, juga kurasai dadaku semakin membesar. Aku heran dan bertanya pada Ibu: “Bu, dadaku semakin membesar, apa ini penyakit?”

Ibu tertawa terpingkal-pingkal. Aku heran dibuatnya. “Kenapa tertawa?”

“Ya memang seperti itulah wanita, An.” Ia lalu mengelus-elus kepalaku.

“Ayo belajar dulu, An,” ajak Bu Desi.

Ibu pamit kerja. Entah apa pekerjaan Ibu. Ia tak pernah bilang padaku.

Setiap hari, Bu Desi selalu datang ke rumah untuk mengajariku ilmu apapun. Ilmu yang paling kugemari dari semua ilmu yang disampaikan Bu Desi adalah sejarah. Hari ini adalah hari Selasa. Jadwal pelajaran hari Selasa adalah ilmu sejarah.

“Kali ini aku mau bercerita tentang seorang ulama besar, An.” Bu Desi memulai pembicaraan.

“Sepertiku, Bu?”

“Iya, An,” jawabnya, “Seorang ulama itu bernama Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad. Beliau adalah seorang ulama besar dari negara Yaman, berkediaman di Hadramaut. Ketika terlahir dari rahim ibunya yang suci, beliau dalam keadaan buta sepertimu.”

“Aku ke belakang, Bu, ke kamar mandi.”

“Iya, An.” Aku ke kamar mandi. Ibu memberitahuku jalan menuju kamarku, kamar mandi, ruang tamu, dan tempat sholat. Aku hafal betul tanpa harus merabai depanku. Selepas dari kamar mandi, aku kembali ke ruang tamu.

“Siapa, An, nama ulama tadi?”

Tinggalkan Balasan