Nilai Islam dalam Reog
Membaca sejarah dari Reog Ponorogo, maka pada dasarnya tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam. Hal ini ditegaskan dalam beberapa hal. Pertama, konsep Reog awalnya bisa dibilang sebuah kritik masyarakat lokal kepada raja Majapahit. Kedua, pembentukan dan konsepsi pagelarannya berlandaskan nilai-nilai Hindu (kepercayaan Ki Ageng Kutu; kepercayaan era itu). Ketiga, lekat dengan hal-hal ghaib, mistis, dan ilmu hitam, mengingat Ki Ageng Kutu adalah salah satu patih yang sakti, dengan niat menggempur Majapahit. Keempat, meminta kekuatan, izin, dan petunjuk dari roh-roh leluhur dan tempat-tempat keramat.

Akan tetapi tatkala era Raden Katong, mulailah terjadi akulturasi budaya, dengan dalih menghilangkan nilai-nilai buruk yang ada dalam Reog guna dimanfaatkan untuk sarana dakwah dan pertujukan. Yang mana nilai-nilai tersebut terjaga hingga hari ini. Contoh konkretnya: menggunakan doa-doa yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sekalipun dikemas dengan bahasa Jawa. Ada juga sesajen yang hakikat awalnya sebagai bentuk sesembahan kepada leluhur, hari ini hanya menjadi sebuah ‘penghormatan’.
Nilai-nilai Islam yang dapat ditilik sejatinya berada pada makna-makna tersirat, filosofi-filosofi di belakang pementasan Reog Ponorogo. Termasuk, sarana pengiringnya, seperti kendang yang menjadi rem dari amaran, nafsu, juga hasrat dari para tokoh di Reog, agar tidak kebablasan, makna tersiratnya adalah konsep nafsu, pelajaran menahan amarah, bagaimana menjaga dan membedakan nafsu amarah, lauwamah, dan mutmainah.
Konsep warok yang termodifikasi menjadi ‘wirai’, tidak gampang terpancing huru-hara, dan menjadi sosok yang berhati-hati. Reog sendiri tersirat filosofi riyoqun, yang memiliki arti akhir yang baik (khusnul khotimah), yang jika dirunut memiliki visi siapapun kita, apapun kita, maka tidak boleh semena-mena, karena kita yang akan dimintai pertanggung awaban.
Hari ini, sependek pengetahuan penulis, pegiat maupun budayawan seni Reog Ponorogo adalah masyarakat muslim Ponorogo, yang artinya Reog sudah memiliki napas Islam dengan visi kemaslahatan. Tokoh-tokoh budayawan Reog adalah pribadi muslim yang bersahaja, tidak memiliki nafsu maupun dendam pribadi seperti Ki Ageng Kutu.
Gamelan pengiring Reog pun sudah dimodifikasi dalam bentuk laras slendro, yang memiliki bilangan 1 ,2, 3, 4, 5, 6 dengan jumlah 17, yang tersirat bahwa perjalanan pementasan (perjalanan hidup) hakikatnya hanya 17 (jumlah rakaat sehari dalam salat).
Reog Ponorogo hari ini menjadi salah satu budaya Indonesia, Ponorogo secara khusus yang lekat dengan nilai-nilai Islam. Reog sendiri juga menjadi simbol kekuatan masyarakat lokal, simbol kearifan budaya bangsa ini yang terjaga dari beberapa tingkat generasi (dari Ki Ageng Kutu-Raden Kalong-Mataram Islam, hingga era ini).
