Bahasa ala Santri
Di duniasantri.co tidak ada narasi yang kasar, keras, atau narasi-narasi anarkis. Tentu hal ini sangat dimaklumi, bahwa karakter santri dibentuk dengan akhlak yang baik. Di sini terasa, pengamalan terhadap Hadis “Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlak,” tidak saja dalam hal ucapan dan tingkah laku, akan tetapi pada narasi literasi dirasa sangat berpengaruh.

Kalimat naratif yang dibangun di media ini begitu santun dan beradab. Akan tetapi bukan tidak boleh tegas dan bersikap tekstual-eksplisit, karena santri adalah panutan bagi masyarakat sekitar dari segala sikap dan tingkah laku. Bukan tidak mungkin jika kemudian menjadi kekhasan tersendiri, di dalam narasi kritis sekalipun masih menggunakan bahasa-bahasa yang “klimis-eksplisit” (baca: santun, beradab).
Jika saya cermati, di duniasantri.co tidak ada opini yang cenderung “keras-kasar” dalam menanggapi berbagai persoalan di tengah kehidupan. Karena hal itu merupakan pokok konsep dalam dakwah, yaitu hikmah, nasihat yang baik, dan diskusi yang bijak. Konsep ini yang ditanamkan dalam benak santri berdasarkan pada konsep Al-Quran yang jelas dan tegas. Maka jika kemudian ada penulis yang nalar literasi kritis-eksplisit (bahasa kasar, berani?) maka hal itu termasuk penulis yang memiliki keberanian di atas rata-rata.
Ketika saya belajar di pesantren, ada sebuah pepatah yang diungkapkan oleh seorang guru, “Berotak Jerman dan berhati Mekkah.” Ungkapkan ini menjelaskan bahwa kita harus memiliki kecerdasan dalam logika kehidupan. Akan tetapi, seberapa pandai pikiran yang kita punya, karakter kita harus tetap mengarah ke konsep Islam (Mekkah). Etika harus tetap didahulukan, karena nilai etik menjadi peradaban kehidupan yang paling diutamakan.
Begitu juga dengan narasi-narasi di laman duniasantri.co. Setiap kata, kalimat yang termaktub dalam naskah seharusnya, dan memang demikian selama ini, mengedepankan kalimat-kalimat yang sejuk dan bermarwah, dalam bahasa agama disebut “kalimatun sawa’,” yaitu kalimat-kalimat yang baik dan bijak. Kesan ini yang kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan web tercinta ini.
Kritis Konstruktif?
Melulu anarkisme dan khilafah? Dalam hal ini bisa menjadi perdebatan dan beda pandangan. Tetapi debat itu bukan sesuatu yang dilarang, bahkan di dalam konsep Islam, debat (mujadalah hasanah) adalah bagian strategi dakwah yang tidak boleh pandang sebelah mata. Terkait dengan anarkisme dan khilafah, seringkali saya menemukan opini terkait dengan sikap ini. Atau mungkin hanya perasaan saya saja? Bahkan, pernah terbersit dalam pikiran saya, “Jika ingin dimuat di duniasantri.co, tulislah bahasan terkait dengan khilafah, HTI, dan teman-temannya.”

Top