Narasi Kritis Dunia Santri

Apakah narasi terkait dengan anarkisme jelek? Tentu jawabannya adalah “tidak.” Namun, segala hal yang terkesan “melulu,” berkesesuaian dengan “selalu” akan berdampak membosankan dan kurang bergairah. Tetapi, perasaan saya dalam hal ini tidak sampai melampaui batas. Masih dalam kewajaran dan tidak berlebihan. Hanya, jika dibiarkan mengalir —hanya dan hanya saja— ke satu sisi muara, maka akan terjadi limpahan yang tidak terbendung. Hal seperti ini, menurut saya, harus diantisipasi agar tetap dalam koridor kewajaran dan kebaikan.

Ketegasan memang diperlukan dalam hal narasi berkesesuaian dengan etik literasi. Selain narasi itu sendiri yang dibuat aturan, juga teknis bernarasi yang sesuai dengan etik berkarya tulis. Tidak jarang di duniasantri.co terjadi pengiriman karya kepada dua atau lebih media sekaligus. Hal ini tentu telah melanggar kode etik kepenulisan yang seharusnya sudah diketahui secara umum. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa di antara penulis, khususnya penulis pemula masih belum paham terhadap kode etik ini. Lebih-lebih lagi di laman tercinta ini tidak ada catatan pedoman yang bisa dibaca langsung saat seseorang mengakses duniasantri.co.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mencermati dan menanggapi persoalan tersebut, rekomendasi saya agar tim redaksi duniasantri.co memuat menu tata cara menulis di platform ini dengan jelas dan terang benderang. Sehingga pada saat penulis ingin berkontribusi, sudah membaca aturan yang harus dipenuhi.

Peristiwa yang baru-baru saja terjadi, adanya kontributor yang submit tulisan dengan menggunakan dua akun. Anehnya lagi akun yang digunakan memiliki nama yang berbeda. Kok bisa ya? Jika hal ini menyebabkan kontributor ini dalam blacklist adalah sah-sah saja. Namun, seharusnya kita juga mesti meminta penjelasan, jangan-jangan karena ketidaktahuannya, ia membuat dua akun dengan nama yang berbeda. Hal ini juga perlu diberi edukasi bahwa hal yang demikian tidak boleh dan menjadi cela dalam dunia literasi. Bukan kemudian dilegitimasi sebagai penulis cacat dan biadab. Karena salah satu tujuan dari literasi adalah memberikan edukasi.

Di grup WA Dunia Santri “Gerakan Santri Menulis” pernah menjadi perbincangan terkait dengan “tanggal” rilis submit dan disetujui untuk direalisasikan. Tetapi hingga saat tulisan ini dibuat, hal tersebut masih belum nampak di bagian pending naskah. Saya memahami bahwa hal tersebut tidak mudah dan tidak gampang. Mungkin memerlukan waktu yang tidak sedikit. Mengapa tanggal itu penting? Karena mudah melihat apakah artikel yang saya submit sudah kedaluwarsa atau belum. Kemudahan bagi kontributor untuk menarik naskah, mengeditnya kemudian mengirimkan kembali ke duniasantri.co atau mengirimkannya ke media lain.

Belakangan pernah dibahas oleh tim redaksi duniasantri.co bahwa kontributor mencapai lebih dari 1.000 person. Hal ini semakin menjadikan kesibukan tersendiri bagi para redaktur. Termasuk teknis seleksi naskah yang memerlukan waktu semakin banyak. Maka kemudian diputuskan deadline naskah menjadi 2 bulan yang sebelumnya 1 bulan. Bagi yang kebetulan mengikuti (membaca) catatan ini tidak jadi masalah. Tetapi bagi kontributor yang tidak sempat membaca, dengan berbagai hal dan alasannya, tentu tidak akan mengerti dan mengetahui.

Hal yang sebenarnya saya inginkan terkait dengan batasan waktu out of date suatu naskah adalah kurang dari 1 bulan. Misalnya 2 atau bahkan 1 minggu saja. Bisa gak ya? Tetapi, mengingat banyaknya naskah dan terbatasnya admin duniasantri.co sebagai editor, hal yang semacam ini sulit untuk direalisasikan. Mengapa saya berharap lebih cepat? Karena dengan demikian bagi naskah yang tidak dimuat berkesempatan lebih cepat untuk diedit atau dikirimkan ke media lain.

Maka diperlukan terobosan baru agar hal-hal kebaruan dalam duniasantri.co dapat diakses (mudah) di halaman depan (home) laman ini. So sorry, saya sekadar usul, karena saya tidak paham bagaimana kondisi real di lapangan dalam membangun platform yang kredibel, legitimasi, aksesibilitas, akuntabel, ramah, sejuk dipandang, dan mudah dijangkau. Wallahu A’lam! 

One Reply to “Narasi Kritis Dunia Santri”

Tinggalkan Balasan