“Yaaa Tuhan, kini berjualan roti digoreng, dengan isi lembaran daging merah di tengah, makanan apalagi ini,” gerutunya.
“Kenapa hidup selalu bercanda kepada orang miskin.”

“Hei, Sumardin,” seorang pria entah dari mana datangnya menegurnya. “Menurut teori supply, kebutuhan tergantung konsumen, dan konsumen kita adalah orang kaya, sedangkan orang miskin cukup menurut apa mau mereka....”
Tanpa pikir, ia langsung menjatuhkan pikulannya. Seketika telur-telur, bumbu, kecap, saus tomatnya pecah dan tumpah buyar berserakan, cair bercampur tanah yang becek. Amarahnya kian menjadi dengan mengacak-ngacak bumbu yang terberai di tanah. Sumardin meronta sejadi-jadinya pagi ini.
***
Sebuah rumah beratapkan jerami tampak begitu tenang dengan asap yang mengepul dari arah dapurnya, tapi sayup-sayup terdengar percakapan yang seru siang itu.
“Enak, Buk,” seorang anak lahap menyantap nasi goreng.
“Kita makan yang dimakan orang kaya, Nak.”
“Iya, Buk.”
“Habiskan semua ya, Nak”
“Sudah pasti, Buk.”
Bau bumbu yang dimasak itu harum semerbak mengacaukan bau comberan di kanal-kanal yang tersumbat sampah. Bau rempah-rempah seperti di dapur hotel bintang lima tercium sedap di antara rumah-rumah kumuh yang rapat. Wanita dan anaknya itu menyatap nasi goreng sisa bumbu jualan bapaknya. Mata mereka bercahaya penuh harapan saat menyantap nasi goreng, berharap produk baru itu tidak bercada karena memang enak untuk dicoba.
