Nasi Goreng Sumardin

***

Daster, levis, baju bayi, sarung, celana dalam, yang masih basah dijepit berderet di sebuah tali kambing di lantai dua. Tali itu terhubung di antara dua buah bangunan yang memayunginya. Sambil tersengal-sengal, matanya mencari jalan setapak hingga menuju sebuah gang yang terlihat ramai orang yang lalu-lalang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sumardin kaget bukan main. Wajahnya peka apa yang terjadi. Terbelalak menyaksikan penyebab dagangan ketupat sayurnya menjadi sepi. Berspekulasi terhadap penyebabnya itu, dia sekaligus mencoba untuk mencari solusi, secara bersamaan otaknya mengepul bagai motor tua yang siap digeber hebat siang ini.

Terlihat jelas orang-orang berkumpul mengitari penjual nasi goreng. Penuh rapat menjamur dari hulu ke hilir lorong. “Orang-orang sudah berganti hobi sarapan pagi,” gerutunya, segera ia langsung bergegas kembali ke rumahnya.

Keesokan harinya, Sumardin melihat harapan baru lagi untuk menghidupi anak-anaknya. Sambil menyiapkan perkakas seperti kuali, spatula, tabung gas, kompor gas, istrinya mulai mengambil bawang merah dan putih, cabe merah dan lengkuas, yang kemudian dihaluskan menggunakan cobek menjadi satu kilo bumbu. Satu kotak bumbu telah siap, dan tertutup rapi dalam wadah bekal anaknnya. Sambil berlari menuju Wak Ujang, Sumardin membeli kecap, saus tomat, dan telur.

Sumardin tahu rahasia nasi goreng begitu disukai, karena kecap dan saus tomat tentunya. “Orang-orang kaya terbiasa mengkonsumsinya, sedangkan ketupat sayur sudah tidak zaman lagi,” katanya. “Orang-orang miskin mana akrab dengan bumbu seperti ini.”

Kemudian ia mengambil wudhu untuk salat dhuha. Tergesa-gesa, komat-kamit, Sumardin mulai sangat khusuk berdoa meminta agar dagangannya laris.

“Bapak seperti Mbah Sabar, Buk. Hi-hi-hi…,” anaknya yang di pangku ibunya itu berseloroh melihat bapaknya.

“Huss, diam!” tegur ibunya.

Sumardin melepaskan sarungnya lalu pamitan dengan menyodorkan telapak tangannya ke istrinya. Istrinya menyambut mencium tangan suaminya, berharap dagangannya laris-manis.

Sumardin menutup pintu rumah langsung menuju tempat di mana orang-orang berkumpul. Tibalah ia di mana dari hulu ke hilir penjual nasi goreng berjualan. Dengan percaya diri, ia memikul gerobaknya yang lebih mirip pedagang kerak telur ketimbang nasi goreng. Sumardin kian mencolok dari penjual nasi goreng yang lainnya. Tidak ambil pusing, ia berjalan tegap seperti serdadu yang siap berperang membawa ransel di pundaknya.

Membuka matanya perlahan untuk mengamati lapak kosong. Sontak dia membisu, mulutnya kaku, tubuhnya mematung sambil mengeluarkan zat garam yang bercucuran dari pori-pori keningnya, kira-kira sebesar biji jagung ukurannya.

Tinggalkan Balasan