Ketiga, ketumpangtindihan dalam memilih huruf vokal “e” dan “a”. Semisal, bede beddena beddek bedde bedde, padahal yaang benar; badha baddhana beddha’ beddha-beddha (ada sebuah wadah bedak yang bolong), bekna, bek en, ajer, padahal yang benar ba’na, ba’an, ajar (kamu, kamu, belajar). Seperti contoh lagi, yang banyak saya temukan, madure, padahal yang benar adalah madura.
Keempat, kecampuradukan antara “j” dan “c”. Masih banyak yang menuliskan cubek, padahal yang benar jhuba’ (jelek/tidak baik). Antara “gh” dan “k”, masih banyak yang menuliskan kengkuk, padahal yang benar ganggu’ (tidak ada aktivitas, sebabnya ingin melakukan sesuatu). Engki, padahal yang benar enggi (iya). Antara “p” dan “bh”, masih banyak yang menuliskan pelling, padahal yang benar bhelling (pecahan kaca), punten, padahal yang benar bhunten (enggak).

Kelima, kerancuan dalam penggunaan “dh”, “d” dan “t”. Semisal, dere, tulat atau settong dhere, padahal yang benar dara (burung merpati), dulat (syukurin), settong dhara (satu darah).
Dari sedikit paparan tentang problematika gramatikal ejaan bahasa Madura tersebut, dapat disimpulkan bahwa perlu adaya kesadaran, pemahaman, dan komitmen bersama untuk tetap melestarikan dengan melestarikan sebaik-baiknya serta sebenar-benarnya ejaan bahasa identitas orang Madura tersebut.
Meski tampak sepele, tidak ada pengaruhnya terhadap pemahaman pembaca, tentu tidak patut kiranya kesalahkaprahan ini kita biarkan. Diacuhkan tanpa adanya pembenahan. Jika tetap seperti itu, kita akan menciptakan “dosa kultural” atau “dosa warisan” yang akan sulit dicari akarnya karena ketiadaan sikap pro aktif dan respons kita dan juga pihak yang berwenang terhadap problem tersebut dari sekarang. Apalagi untuk pihak-pihak yang memang menggeluti dunia kebahasaan dan pers.
Proyek besar ini bisa dimulai dari hal kecil, jika semisal ada pamflet, selembaran, sepanduk atau mungkin banner yang menggunakan bahasa madura dan ejaannya salah, maka kita bisa menegur yang bersangkutan dengan lembut, mengajaknya ngopi sembari memberinya edukasi. Dengan lembut memintanya untuk menurunkan dan mengubah “yang salah tersebut” agar kemudian tidak dianggap benar oleh yang belum tahu.
Lebih dari itu, kita juga bisa mengadakan pelatihan kepenulisan ejaan bahasa Madura dengan mendatangkan orang-orang yang memang pantas dan layak. Bisa juga dengan nenghadirkan buku-buku bacaan atau buku pedoman dan lain sebagainya. Bahkan, saya sangat menyarankan bahasa Madura ini dimasukkan dalam kurikulum, baik formal maupun nonformal. Pesantren, misalnya. Jika tidak? Ya, wallahu a’lam.

Cong, baramma kabarra? (Cong, beremma kaberre?) Mantab abis!!!