Malam kali ini terasa sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Sayup-sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan. Sesekali suara burung malam terbang penuh harapan. Udara terasa dingin, menusuk tubuhku hidup-hidup. Di atas sana langit cerah dihiasi bintang-bintang yang bertebaran setia menemani keanggunan sang dewi malam. Namun sayang, pandangan mataku sedikit terhalang oleh rimbunnya dedaunan hutan rimba.
Pasukan nyamuk juga tidak mau kalah, terbang ke sana-kemari berhamburan mencari hamparan kulit untuk mengobati kehausan. Aku mengaduh pelan. Suara dengungannya sungguh mengganggu konsentrasiku.

Di tengah ramainya suara dengungan nyamuk yang berseliweran di sekitar tubuhku, mataku tak lepas menatap satu objek hidup yang sedang bertengger anggun di atas sebuah pohon. Ya, itu adalah burung rangkong julang emas yang memesona. Bulu bagian punggung dan sayap sampai perut bewarna hitam dengan kemilau hijau metalik, membuatnya berkemilau indah saat sang ratu malam menyiraminya dengan cahaya temaram. Sedangkan ekornya berwana putih kontras. Pesona rangkong julang emas terlihat jelas pada bagian paruhnya, paruh berwarna kuning gading yang menawan. Paruhnya inilah yang membuatnya diburu banyak orang hingga hampir punah sekarang, nilai jualnya bukan main mahal.
“Kita sangat beruntung Sar. Sasaran kita malam ini bukan main! Rangkong julang emas! Kita bisa langsung kaya hanya dengan menyelundupkan satu hewan itu!” Bisik Asraf, pemuda seumuranku yang memiliki hidung mancung serta berewok tipis seperti orang Turki.
“Ya, Tuan Muda Abizard pasti akan terkekeh saat kita membawa pulang rangkong itu,” sahutku.
“Bukan main! Ratusan juta akan jatuh ke tangan kita esok hari!” Asraf menyugingkan senyum. “Pasar gelap, aku datang!” tambah Asraf sambil terkekeh.
Aku membenarkan ucapan Asraf dalam hati. Pasar gelap memang tujuan sekaligus sumber uang kami. Di sana tempat kami melakukan jual-beli satwa langka. Gepokan uang dalam amplop berwarna coklat kusam itu bukan lagi pemandangan yang fantastis untuk kami. Puluhan juta, ratusan juta, atau bahkan sampai miliaran bisa dalam genggaman dalam waktu sekejap jika sedang beruntung. Uang sebesar itu jelas sangat menggiyurkan bukan? Apalagi untuk pemuda sepertiku.
Dulu aku hanyalah anak petani miskin di desa ujung pulau. Tubuhku kecil ringkih karena kurang asupan. Rambutku seperti sarang burung, berantakan. Hari-hariku hanya diisi dengan menggembala kambing serta mengaji di musala kecil pinggir sawah yang dibimbing Kiai Ahmed. Setiap sore aku mengaji di musala itu. Membacakan ayat-ayat Ilahi adalah rutinitas. Tidak hanya itu, kami juga mengikuti pelajaran keislaman dari Kiai Ahmed hingga malam tiba. Itulah kehidupanku di masa kecil dulu.
Masa-masa itu mulai berubah saat umurku menginjak 18 tahun. Aku memutuskan untuk merantau ke pulau seberang. Di sana banyak lapangan kerja. Tapi untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak; tak ada lembaga yang mau menerimaku. Aku memang tak punya skill apapun untuk diterima di sebuah perusahaan. Aku sangat pasrah waktu itu. Hingga akhirnya aku bertemu seseorang yang diam-diam mengajakku untuk mengikuti bisnis ilegal.
Awalnya aku tidak mau. Itu perbuatan yang sangat jauh dari apa yang diajarkan Kiai Ahmed. Tidak halal. Apalagi jika mamak tahu, jelas-jelas tak akan merestuiku dengan pekerjaan itu. Namun seketika imanku tergoyah saat tuan muda Abizard, seorang pemimpin bisnis penyelundupan hewan langka itu membisikkan honornya. Selain itu pekerjaannya juga tidak terlalu sulit, hanya berburu satwa. Pekerjaan itu kuanggap hal mudah karena aku sudah terlatih saat masih ada di desa dahulu. Dan pada akhirnya inilah bisnisku, penyelundupan satwa langka.
“Heh!? Keysar!” Asraf menyodok perutku dengan sikunya. Aku tersentak, buyar sudah lamunanku tadi. Aku melotot ke arahnya, “Apa, hah?”
“Cepat ambil senapanmu! Tunggu apalagi? Rangkong itu nanti keburu pergi! Jangan malah melamun saja memikirkan jodoh,” cetus Asraf dengan tetap berbisik. Dengan gerak cepat aku menginjak kakinya. Membuat dia meringis.
“Umur sudah dua sembilan kok belum punya calon. Sepertinya jodohmu nyasar di pasar, Sar,” celetuk Asraf menyebalkan.
“Apa sih Raf!” dengusku.
“Ya sudah kalau tidak mau kugoda seperti ini, cepat ambil senapanmu, hei!” tak lama Asraf kembali fokus menatap target, dia kembali melotot ke arahku. Sebelum Asraf kembali mengomel tanganku dengan gesit menyambar sebuah senapan yang dari tadi tergeletak di dekat pohon besar.
Otakku kini memulai konsentrasi. Mataku menyipit, memastikan aku telah membidik sasaran dengan tepat. Jantungku kembali dag-dig-dug. Keringat segera membasahi pelipisku. Aku menahan napas.
Jariku sudah bersiap menarik pelatuk. “Tenang Keysar Ardito. Kamu harus tenang,” aku membatin untuk menenangkan diriku. Tak butuh waktu lama jemariku kemudian menarik pelatuk.
Dor! Dor!!!
Dua peluru bius sekaligus kutembakkan.
