“Sur, Sur. Nggak usah takut. Aku tidak akan memecatmu. Memarahi pun aku tidak berani, karena itu hakmu untuk berpikir. Apalagi kamu sudah bekerja padaku sudah lebih dari lima belas tahun.”
“Sudah lama, tapi nasib baik dan uang banyak tetap milik Wak Kaji, bukan aku,” sindir Suradi.

“Ha-ha-ha. Sur, Sur… Kalau ada kompetisi mengeluh, aku yakin kamu juaranya. Tidak mengapalah, aku tidak melarangnya, itu hakmu juga sebagai manusia. Aku dengar juga, kamu ingin merenovasi rumah? Betulkah itu?”
Suradi tambah kecut. Pasti curhatannya kepada Kang Nardi dibocorkannya kepada Wak Kaji.
“Bukan itu saja Wak, istriku ingin beli sepeda motor metik, meski bekas. Anakku juga ingin hape seperti teman-temannya.”
“Wah, banyak sekali kebutuhanmu. Tapi, kenapa kamu kok malah minta ngaso?”
“Badanku sakit semua, Wak. Tak kuat aku terus-terusan menjadi buruh. Jadi, gimana Wak? Bolehkah aku ngaso sebentar? Tidak berhenti kok.”
“Sudah aku bilang, kalau itu maumu tidak apa-apa. Tapi ada satu hal….”
“Apa, Wak?”
“Aku akan mengizinkanmu ngaso sebulan. Tapi, sebelumnya kamu kuberi tugas sebelum kamu ngaso.”
“Tugas?! Tugas apa itu Wak Kaji?”
“Lahan yang satu hektare itu, kamu garap ya. Kamu yang tanggung jawab. Kebutuhan pupuk, bibit, bayar buruh tandur, buruh tebang, ngangkut truk ke pabrik, semua kamu yang atur.”
Suradi mendengus kesal. Yang diharapkannya Wak Kaji memberinya pesangon, sebagai sangu untuk masa ngasonya. Eehh, tidak tahunya diserahi tugas yang sama dengan pekerjaannya dulu. Masa ngasonya harus terhenti tujuh bulan lagi, karena tugas baru dari Wak Kaji.
Demi ngaso yang diidamkan, Suradi menjalankan tugas Wak Kaji. Dengan malas, ia menanam dan merawat sendiri tebunya. Bertambahlah porsi mengeluhnya. Asal-asalan saja Suradi dengan tebu rawatannya. Hingga tampak kurus tebunya, hanya sebesar rumput gajah, kurang pupuk, enggan menyiangi rumput, apalagi ia diberi kewenangan berhak mengolah semaunya sendiri.
Suradi tidak belajar kepada titik-titik air hujan, yang bagaimana ia jatuh tanpa mengeluh sedikit pun pada takdir. Waktu yang terbuang percuma, dengan kemarahan dan mengeluh. Hati dan pikiran Suradi telah sempit. Enggan berterima kasih pada Tuhan yang memberinya kesempurnaan anggota badan, memberinya nikmat tenaga, dan tidak berusaha mengubah yang dikeluhkannya.
Suradi tidak juga menyadari pelajaran alamtakambang. Bahwa, hidup memang dibuat tidak mudah, karena untuk memisahkan mereka yang mau berupaya dan mereka yang hanya mengeluh. Bahwa, hidup tidak hanya untuk mengeluh, mengaduh, dan menuduh. Hidup adalah untuk mengolah kehidupan itu sendiri.
Suradi, kecewa pada kehidupannya. Mengeluh sebagai pelampiasannya, kehilangan semangat dan gairah untuk mengubah. Jika takdir tidak sesuai dengan harapan, kenyataan tidak sesuai keinginan, atau apa pun yang belum tergenggam, katakan saja “Itulah hidup!” Suradi beku. Belum mencair hingga memahami bahwa seorang yang mendapatkan mawar dengan tangan kosong, ia tak boleh mengelu bahwa duri telah menyakitinya.
Tujuh bulan berselang, tibalah masa panen tebu. Suradi menggerutu tapi tidak ambil peduli. Yang dipedulikannya masa ngaso yang diidamkan, bukan hasil panennya. Toh, Wak Kaji juga yang akan dapat uang panennya.
Begitu Wak Kaji datang untuk melihat hasil kerja Suradi, Wak Kaji tersenyum.
“Sur, hasil panennya lebih sedikit dari biasanya, ya? Tapi tidak mengapa. Kamu telah berusaha. Kamu tahu? Aku ingin menghargai waktu bekerjamu selama lima belas tahun ini. Kang Nardi menceritakan semua padaku, sebagai bentuk simpatinya, agar aku dapat membantumu. Makanya, aku niatkan hasil panen ini semua untukmu. Terimalah….”
Suradi terkejut. Berusaha tersenyum meski getir. Penyesalan memang di akhir. Jika ia tahu hasilnya akan diberikan semuanya, tentu ia akan lebih keras lagi bekerja. Andai… jika… kalau… menjadi kata-kata yang disiapkan untuk keluhan-keluhan berikutnya. Mengeluhnya semakin menjadi!

Go go trending, go👍👍👍