Sepanjang tahun itu, Kota Kabul seketika menjadi sunyi dan senyap. Latifa menuliskan bagaimana sesungguhnya Taliban mengubah segala hal dalam kehidupan pribadinya, anggota keluarga, pertemanan juga kondisi lingkungan sosialnya. Kakak laki-lakinya yang dahulu adalah anggota tentara Uni Soviet kini terpaksa harus tunduk kepada “mereka”. Ia pun harus mengubah penampilan dan cara berpakaian sesuai syariat versi Taliban, tentunya. Menumbuhkan janggut sesuai dengan ketentuan Taliban untuk laki-laki dan mengenakan burka bagi perempuan.
Ketika Taliban berhasil menguasai Afghanistan, mereka menarik seluruh duta besar yang ditempatkan di luar negeri, lalu menetapkan negaranya untuk menjalankan peraturan berdasarkan hukum syariat, di mana peraturan tersebut sangat banyak menyasar perempuan sebagai objeknnya. Ketika seseorang melanggar peraturan tersebut, ia harus dihukum secara terbuka di tengah lapangan umum. Bagi Latifa, ini adalah sebuah penolakan penuh terhadap kebebasan individual —suatu rasisme seksual yang luar biasa.

Latifa memang perempuan yang cukup kritis menghadapi situasi di sekelilingnya. Ia yang sejak lama bermimpi masuk universitas dan bekerja sebagai jurnalis seperti kakak perempuannya, sekarang terpaksa harus menerima kondisi di luar kendalinya. Sejak duduk di bangku sekolah, ia mulai membuat koran dengan berita yang ditulisnya hasil dari mendengarkan radio yang tidak tentu sepanjang hari mengudara. Akses televisi dan radio cukup sulit didapatkan kala itu.
Ia juga mengisahkan bagaimana kondisi perempuan yang sering kali datang menemui ibunya secara diam-diam untuk mendapatkan perawatan; ya ibunya adalah seorang sarjana kedokteraan yang sudah banyak menyaksikan kecamuk perang selama hidupnya. Kini ia berpraktik secara sembunyi-sembunyi dan tetap menerima pasien yang datang sewaktu-waktu. Ia melihat ibunya menjahit luka perempuan korban kekerasan Taliban yang menganga di dada dan sekujur tubuhnya. Juga perempuan perempuan lain korban pemerkosaan oleh anggota Taliban.
Dampak perang saudara sungguh luar biasa. Bayi lahir dengan wajah aneh menakutkan, hanya satu mata di tengah kening dan satu di tengah puncak kepalanya, sementara mulutnya ada di pipi. Ia tak berkaki pun tak bertangan. Beberapa dokter mengatakan bahwa cacat bayi disebabkan oleh ketakutan perang yang diderita oleh ibunya. Sementara tes laboratorium menunjukkan bahwa keduanya, ibu dan bayi, terdampak bahan kimia dari rudal Scud.
