“Teman-teman, mari makan semuanya,” demikian ia menawarkan pada saat itu.
Tanpa ba-bi-bu lagi, sebagaimana yang telah dirancang, sekian banyak santri menyerbu masakan Marzuki. Semula Marzuki mengira itu hanya gurauan. Akan tetapi, kenyataannya, makanan yang hanya cukup untuknya dan sekali makan berikutnya, dalam sekejap ludes dan habis. Hal itu tentu saja membuatnya menderita. Perasaannya begitu entah. Sangat tidak menentu dan tidak tahu perasaan apa lagi. Sesenggukan ia menangis melihat kenyataan tersebut.

Melihat Marzuki menangis karena makanannya habis dimakan bersama, beberapa santri senior mendatanginya. Kemudian memberikan nasihat bahwa sebagai santri tidak boleh bersikap kikir dan pelit. Jika punya jajan (gu’ganggu’) sebagian harus diberikan kepada teman. Karena kita hidup dalam kebersamaan, sewaktu-waktu pasti akan memerlukan pertolongan orang lain.
“Sebagai santri harus mau berbagi. Menawarkan makanan kepada lainnya adalah sikap yang baik. Para santri memahami keadaan masing-masing, tidak mungkin akan ikut makan jika tidak karena ada sebab,” begitu Marzuki diberi nasihat oleh santri senior.
Akhirnya Marzuki menyadari sikap dan sifatnya selama ini yang termasuk pelit. Sejak saat itu ia berjanji untuk berbagi dengan teman lainnya.

Mantab pak