***
Berbeda dengan kisah lainnya. Kisah ini terjadi di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Jawa Timur. Teman saya, sebut saja namanya AZ, pelaku sekaligus sohibul hikayat. Teman sepondoknya, sebut saja namanya ZN, termasuk santri yang pelit alias kikir.

Pada suatu saat ZN mendapat kiriman mi instan sekian banyaknya. Karena ZN termasuk santri yang meddit, mi yang sekian banyak itu tidak dibagi dengan teman sekamar. Teman saya AZ melihat kenyataan itu, muncul pikiran naifnya. Tanpa sepengetahuan ZN tentunya, AZ mengambil alat suntik dan menyuntikkan minyak tanah ke dalam bungkusan mi instan milik ZN.
Sudah dapat ditebak apa yang terjadi. Akhirnya ZN membuang seluruh mi yang ada karena terasa dan berbau minyak tanah. Entah bagaimana selanjutnya, apakah ZN menyadari sikap pelitnya kemudian insaf. Atau tetap dengan sikap kikir tersebut karena sudah menjadi karakternya. Entahlah!
Jadi sudah sewajarnya bahwa sebagai seorang santri yang hidup di lingkungan pesantren dengan kondisi sederhana, kita harus saling berbagi. Ketika kita punya jajan atau makanan lainnya yang cukup untuk dibagi, maka berbagi adalah sikap yang sangat baik. Karena, sebagai manusia harus saling memiliki sikap empati. Sebab, kita tidak akan hidup tanpa bantuan orang lain. Kikir atau pelit adalah sikap buruk dan harus dihindari. Wallahu A’lam!

Mantab pak