Aku menurut saja, mengingat waktu itu masih satu jam sebelum azan dikumandangkan.
“Mau sholat jumat pakai sarung?” tuturnya.

Aku dengan mantap menjawab “Ya iyalah, biasa juga begini.”
Ia lalu melanjutkan perkataannya, “Kamu tahu tidak kalau di sini pakai sarung jadinya gimana?”
Aku geleng kepala saja. Ia melanjutkan perkataan, “Nih, kukasih tahu kau ya. Di sini itu kalau pakai sarung kamu pasti diketawain.”
Aku heran, kenapa harus ditertawakan. Apakah karena Kairo kota besar? Sama seperti kita jalan-jalan di Jakarta atau Surabaya malu kalau pakai sarung? Aku bertanya penasaran, “Lah, memang kenapa?”
Temanku menjawab dengan sedikit tertawa geli. “Jadi gini, he-he. Di Mesir itu kalau misalkan ada orang bertamu, lalu si tuan rumah memakai sarung saat menemui di pintu, itu tandanya pemilik rumah sedang berasik-asik ria dengan istrinya. Kenapa pakai sarung? Karena itu tandanya permainannya belum selesai, mau lanjut lagi.”

Tulisannya keren, cukup sederhana tapi renyah dibaca