Nasib Sarung dan Gamis Santri

Aku tertawa tak henti-henti mendengar penjelasan temanku. Aku terpingkal-pingkal hingga terjatuh dari kursi. Wah, ada apesnya juga sarung ini. Untungnya aku diberitahu. Akhirnya aku kembali ke kamar, sarung kuganti dengan celana panjang.

Benar saja, beberapa hari setelahnya tak sengaja aku membuka Twitter. Di salah satu tweet Gus Usman Ar-Rumy, ada video yang memperlihatkan Mbah Sudjiwo Tedjo yang diketawain habis-habisan oleh ibu-ibu dekat apartemennya, karena mengenakan sarung di tengah jalan. Mbah Tedjo nampak kebingungan, hingga akhirnya dijelaskan oleh Gus Usman. Sungguh video yang menggelitik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebenarnya, di lingkungan Al-Azhar University sendiri banyak mahasiswa Indonesia yang mengenakan sarung untuk ke sana-ke mari. Tapi warga lokal sana sudah terbiasa, karena sudah bertahun-tahun mereka paham budaya mahasiswa Indonesia yang kebanyakan tinggal di sana. Ini berbeda dengan penulis dan teman-temannya yang tinggal di daerah Heliopolis (Misr Gadida), tentu akan kaget dengan setelan apparel yang sedemikian rupa.

Jadilah sarung yang penulis bawa tak berguna. Hanya bisa dipakai di dalam rumah. Itu pun sangat jarang, karena fungsi pendinginan sarung saat itu tak berguna. Saat itu bulan Desember, Mesir sedang mengalami musim dingin, suhu bisa mencapai 30C. Malah butuh yang bikin hangat.

Akhirnya karena bosan dan nampak risih tiap salat Jumat harus pakai celana, penulis membeli gamis seperti teman-temannya yang lain. Fungsinya cuma dipakai saat salat Jumat, dan kalau lagi sadar dan kepikiran dipakai juga untuk salat jamaah di masjid.

Nah, nasib si gamis ini ketika penulis sudah pulang ke Indonesia, sama dengan nasib sarung penulis ketika berada di Mesir. Gak Guna! Mau dipakai salat pun malu, karena di desa gak biasa sekali melihat orang salat mengenakan jubah. Yah, pokoknya jangan lupa kalau mau ke mana-mana riset dulu soal budaya lokalnya, biar tidak terjerumus, wkwk.

Salam.

One Reply to “Nasib Sarung dan Gamis Santri”

Tinggalkan Balasan