Ada sebuah negeri yang sangat mengagumkan. Di negeri ini, orang tak perlu kuliah bertahun tahun untuk menjadi ahli. Tidak perlu membaca buku. Tidak perlu melakukan penelitian. Tidak perlu mengalami sesuatu secara langsung. Bahkan tidak berpikir terlalu lama.
Cukup menonton video dua menit. Sesudah itu, seseorang dapat menjadi pakar ekonomi, dokter, ahli hukum, ahli politik, ahli agama, ahli militer, ahli pertanian, bahkan hali tentang bagaimana sebuah pesawat bisa jatuh meskipun ia sendiri belum pernah naik pesawat tanpa merasa panik ketika turbulensi.

Inilah negeri para pakar. Di sini, ilmu pengetahuan tidak lagi membutuhkan perpustakaan. Ia membutuhkan kolom komentar. Universitas boleh menghabiskan empat tahun untuk mendidik seorang sarjana. Tetapi media sosial dapat mencetak seorang “profesor” dalam waktu tiga puluh detik. Gelarnya tidak dicetak oleh kampus, melainkan oleh keberanian mengetik dengan huruf kapital.
Semakin sedikit pengetahuan yang dimiliki seseorang, kadang semakin panjang keyakinannya. Ada yang menonton potongan video tentang penyakit tertentu, lalu merasa telah menguasai kedokteran. Ia kemudian memberikan diagnosis kepada tetangga, saudara, bahkan kepada dokter yang sudah belajar bertahun-tahun.
“Dokter sekarang terlalu banyak teori,” katanya. Teori memang merepotkan. Ia membutuhkan bukti. Sementara keyakinan cukup membutuhkan perasaan.
Ada pula yang menonton video tentang ekonomi selama dua menit. Setelah itu ia mengetahui mengapa harga beras naik, mengapa nilai tukar bergerak, mengapa utang negara bertambah, dan mengapa ekonomi dunia sedang kacau.
Sumbernya?
“Ini ada videonya”
Begitulah cara baru kita memahami dunia: bukan melalui data, melainkan melalui video yang dikirim oleh seseorang yang juga mendapatkan video itu dari seseorang yang lain yang tidak kita kenal.
Rantai pengetahuan kita kini menyerupai rantai makanan. Bedanya, yang dimakan bukan langsung daging, melainkan konteks. Konteks adalah korban pertama dari video pendek. Sebuah pernyataan yang semula memiliki latar belakang sepuluh halaman dipotong menjadi dua puluh detik. Sebuah penelitian bertahun-tahun diringkas menjadi satu kalimat. Sebuah persoalan yang melibatkan sejarah, ekonomi, budaya, hukum, dan manusia yang dijadikan judul: “TERNYATA SELAMA INI KITA DIBOHINGI!”
Judul semacam itu selalu menjanjikan pencerahan. Dan kita selalu bersedia tercerahkan. Barangkali karena manusia memang menyukai penjelasan sederhana untuk masalah yang rumit. Kita senang menemukan satu kambing hitam untuk dunia yang penuh kambing, serigala, rumput, pagar, dan pemilik kebun.
Masalahnya, dunia tidak sesederhana video dua menit.
Kemiskinan bukan sekadar karena orang malas. Inflasi bukan sekadar karena pemerintah bodoh. Masalah pendidikan bukan sekadar karena guru tidak becus. Korupsi bukan hanya persoalan satu orang jahat. Konflik sosial tidak selesai dengan kalimat, “Menurut saya, solusinya gampang.”
Kata “gampang” sering kali merupakan tanda bahwa seseorang belum cukup lama memikirkan masalah. Namun zaman kita justru memberi hadiah kepada orang yang paling cepat mempunyai pendapat. Orang yang berkata, “Saya belum tahu,” terdengar lemah. Orang yang berkata, “Mari kita periksa datanya,” terdengar membosankan. Sedangkan orang yang berkata, “Saya sudah bilang dari awal!” tampak seperti nabi. Maka semua orang berlomba menjadi nabi kecil.
Di media sosial, pendapat tidak lagi sekadar pendapat. Ia menjadi identitas. Jika seseorang sudah telanjur membagikan sebuah pandangan, ia akan mempertahankannya seperti mempertahankan harga diri. Data boleh datang membawa koper. Penelitian boleh datang membawa seribu halaman. Kesimpulan boleh datang dengan catatan kaki yang panjang.
Tidak penting.
“Saya tetap tidak percaya.”
Kalimat itu mungkin merupakan bentuk demokrasi yang paling sederhana sekaligus paling melelahkan. Kita memang hidup dalam masyarakat yang berhak mempunyai pendapat. Tetapi hak untuk berpendapat tidak otomatis memberikan hak untuk benar. Ini perbedaan kecil yang sering hilang. Kita boleh mempunyai opini tentang operasi jantung. Tetapi bukan berarti kita boleh mengambil pisau dan berkata kepada dokter, “Tenang, saya sudah menonton tutorialnya.”
Kita boleh mempunyai pendapat tentang hukum. Tetapi membaca satu unggahan media sosial tidak menjadikan seseorang ahli hukum. Kita boleh berbicara tentang agama. Tetapi satu potongan ceramah tidak selalu cukup untuk memahami kitab, tradisi, perbedaan pendapat, sejarah pemikiran, dan kerumitan persoalan yang telah dibicarakan para ulama selama berabad-abad.
Pengetahuan mempunyai kesabaran yang tidak dimiliki algoritma. Ia tumbuh perlahan. Ia meminta kita membaca sesuatu yang tidak kita sukai. Ia memaksa kita bertemu dengan argumen yang bertentangan. Ia mengajarkan bahwa mungkin kita keliru. Dan barangkali inilah bagian yang paling tidak populer dari ilmu pengetahuan: ilmu pengetahuan tidak selalu membuat kita merasa pintar. Kadang-kadang justru membuat kita sadar betapa banyak yang tidak kita ketahui.
Socrates, konon, terkenal karena menyadari ketidaktahuannya. Hari ini mungkin ia akan kalah jumlah pengikut dari seseorang yang membuat video, “5 Fakta yang Tidak Mau Kamu Ketahui!”
Begitulah paradoks negeri para pakar. Kita memiliki akses pengetahuan yang belum pernah sebesar ini dalam sejarah. Tetapi akses terhadap informasi tidak sama dengan kemampuan memahami informasi. Kita memiliki Google, jurnal, perpustakaan digital, universitas, arsip, dan berbagai sumber pengetahuan. Namun pada saat yang sama, kita juga mempunyai kemampuan luar biasa untuk percaya kepada sesuatu hanya karena seseorang mengatakannya dengan suara yang sangat yakin.
Barangkali persoalan terbesar zaman ini bukan kekurangan informasi. Kita justru kebanjiran informasi. Yang kurang adalah kerendahan hati. Sebab menjadi pintar bukan hanya mengetahui banyak hal. Menjadi pintar juga berarti mengetahui batas pengetahuan sendiri.
Maka mungkin sudah waktunya kita menambahkan satu gelar baru dalam masyarakat: Ahli Menunggu Sebelum Berkomentar. Masa studinya panjang. Syarat kelulusannya sederhana: mampu berkata, “Saya belum tahu.” Dan tesis akhirnya hanya satu kalimat: “Saya akan mencari tahu terlebih dahulu.”
Sayangnya, gelar semacam itu mungkin tidak akan laku. Sebab di negeri para pakar, dua menit video sudah cukup untuk membuat kita merasa menjadi ahli. Dan lima menit kemudian, kita siap mengajari seluruh dunia.
