Ada sebuah negeri yang sangat mengagumkan. Di negeri ini, orang tak perlu kuliah bertahun tahun untuk menjadi ahli. Tidak perlu membaca buku. Tidak perlu melakukan penelitian. Tidak perlu mengalami sesuatu secara langsung. Bahkan tidak berpikir terlalu lama.
Cukup menonton video dua menit. Sesudah itu, seseorang dapat menjadi pakar ekonomi, dokter, ahli hukum, ahli politik, ahli agama, ahli militer, ahli pertanian, bahkan hali tentang bagaimana sebuah pesawat bisa jatuh meskipun ia sendiri belum pernah naik pesawat tanpa merasa panik ketika turbulensi.

Inilah negeri para pakar. Di sini, ilmu pengetahuan tidak lagi membutuhkan perpustakaan. Ia membutuhkan kolom komentar. Universitas boleh menghabiskan empat tahun untuk mendidik seorang sarjana. Tetapi media sosial dapat mencetak seorang “profesor” dalam waktu tiga puluh detik. Gelarnya tidak dicetak oleh kampus, melainkan oleh keberanian mengetik dengan huruf kapital.
Semakin sedikit pengetahuan yang dimiliki seseorang, kadang semakin panjang keyakinannya. Ada yang menonton potongan video tentang penyakit tertentu, lalu merasa telah menguasai kedokteran. Ia kemudian memberikan diagnosis kepada tetangga, saudara, bahkan kepada dokter yang sudah belajar bertahun-tahun.
“Dokter sekarang terlalu banyak teori,” katanya. Teori memang merepotkan. Ia membutuhkan bukti. Sementara keyakinan cukup membutuhkan perasaan.
Ada pula yang menonton video tentang ekonomi selama dua menit. Setelah itu ia mengetahui mengapa harga beras naik, mengapa nilai tukar bergerak, mengapa utang negara bertambah, dan mengapa ekonomi dunia sedang kacau.
Sumbernya?
“Ini ada videonya”
