Di sini menerangkan bahwa dengan menuruti hawa nafsu maka seseorang akan celaka, dan dengan menghadapi masalah disertai kesabaran akan menuai kesuksesan. Jadi hawa nafsu melahirkan kemudharatan sedangkan sabar menunjukkan kesuksesan. Kiai Fikri juga menjelaskan, bahwa di Kitab Idhatun Nasyiin dijelaskan bahwa karakter sabar menunjukkan sebuah kecerdasan.
Risalah ke-17, menjelaskan terkait dengan akal dan hawa nafsu. Bahwa seseorang yang menjadikan akal sebagai “raja” maka ia akan beruntung. Sebaliknya, barang siapa yang menjadikan hawa nafsu sebagai “raja” ia akan menuai kerugian yang besar. Akal atau logika menunjukkan kesempurnaan, sedangkan hawa nafsu akan membawa kepada kehancuran dan kerugian. Maka jadilah orang cerdas untuk menggunakan akal dalam menggapai hidayah. Dan berhati-hatilah terhadap hawa nafsu agar terhindar dari kecelakaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Kiai Fikri melanjutkan pada risalah ke-18, risalah terkahir yang dibahas pada pengajian kali ini. Pada risalah ini dijelaskan tentang seseorang yang meninggalkan dosa, maka orang tersebut akan lembut hatinya. Mudah dinasihati dan diajak kepada kebenaran dan kebaikan. Sedangkan seseorang yang meninggalkan perbuatan haram dan makan menu masakan yang halal, maka orang tersebut pikirannya akan jernih. Mampu membedakan kebenaran dan kebatilan. Yang benar diikuti dan yang batil dijauhi, sehingga menjadi insan kamil yang akan mendapat pahala dari Allah.
Demikian pelaksanaan Ngaji Kitab Nashaihul Ibad kali ini yang diikuti tidak kurang dari 250 alumni Annuqayah dan simpatisan. Pelaksanaan kali ini terbilang cukup sukses, lebih-lebih terkait peserta yang hadir jauh lebih banyak dari sebelumnya.
