Ngaji Riyadhus Shalihin: Jihad Milenial

Salah satu hadis yang dibahas dalam pengajian kitab Riyadhus Shalihin kali ini adalah hadis nomor tiga bab yang pertama. “Dari Aisyah RA berkata, ‘Bersabda Nabi Muhammad saw, “Tidak ada hijrah setelah penaklukan Mekah (fathu makkah), akan tetapi (yang tersisa) adalah jihad dan niat, jika kalian diminta berangkat (dalam kebaikan) maka berangkatlah,” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjelaskan bahwa hijrah (bertolak dari negeri perang menuju negeri damai) sudah tidak ada lagi, yang ada tinggallah jihad dan niat.

Dalam penjelasannya, Kiai Hanif juga menekankan pentingnya berhati-hati dalam memaknai jihad. Sebab, akhir-akhir ini makna jihad telah dipolitisasi untuk melakukan perbuatan radikal, kriminal, dan anarkis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam sebuah ayat Al-Quran, Allah berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut : 69).

Ayat ini menjelaskan terkait dengan jihad dan kebaikan. Jadi, jihad tidak semata berarti perang, akan tetapi segala hal perbuatan yang ditujukan untuk keridhaan Allah.

Dalam pengajian ini dijelaskan juga pengertian jihad (bahasa Arab: جهاد‎). Jihad menurut syariat Islam adalah berjuang, berusaha, berikhtiyar dengan sungguh-sungguh. Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia, yaitu menegakkan agama Allah atau menjaga din/agama tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-Quran.

Jihad tidak ada kaitannya dengan radikalisme, kriminalisme, dan anarkisme. Akan tetapi, jihad merupakan ikhtiar dakwah Nabi dengan cara-cara yang lembut, manusiawi, dan membangun hubungan dengan akhlakul karimah.

Tinggalkan Balasan