Dalam penjelasan terkait jihad, Kiai Hanif menegaskan bahwa kegiatan keseharian jika diniatkan demi kemaslahatan, maka akan bernilai ibadah atau jihad di sisi Allah. Semisal, menyapu halaman, mandi, tidur, dan lain sebagainya, jika diniatkan untuk kebaikan dan kemaslahatan, maka kebiasaan (al-‘adah) tersebut bernilai ibadah (kebaikan di sisi Allah). Membangun masjid, musala, membelanjakan harta dalam kebajikan, menurut Kiai Hanif, termasuk dalam makna jihad. Jihad dengan segala aspek kebaikan yang ada di dalamnya adalah makna jihad yang sebenar-benarnya.
Memang, tidak salah jika ada yang memaknai jihad sebagai perang atau peperangan. Namun, dalam hal ini tidak serta merta menjadi sebuah keharusan dalam arti perang. Karena perang itu sendiri tidak akan pernah terjadi jika di dalamnya tidak memenuhi persyaratan perang yang cukup ketat. Dalam sejarah Islam, perang akan terjadi jika terpaksa untuk dilakukan, tidak ada jalan lain kecuali dengan peperangan itu sendiri. Selagi ada solusi, sebuah permasalahan dapat dilakukan tanpa perang, maka pertikaian tersebut tidak akan dilakukan. Begitu Islam membangun hubungan damai demi kemakmuran bersama dalam pluralisme kehidupan.

Hijrah dan jihad di era milenial (era digital saat ini) merupakan sebuah keniscayaan. Dalam pemahaman yang lebih luas, hijrah dapat dilakukan oleh generasi saat ini dengan segala hal yang bernilai positif. Hijrah dalam makna yang lebih luas adalah berpindah dari sesuatu yang kurang baik menjadi lebih baik. Sementara jihad, makna yang lebih luas adalah mengerahkan kemampuan untuk bersungguh-sungguh dan berkomitmen untuk melakukan kebaikan. Maka jika makna ini yang dimaksud, hingga saat ini hijrah dan jihad dapat dilakukan oleh generasi milenial.
Itulah sebagian materi Ngaji Kitab Riyadhus Shalihin yang dapat dijabarkan dalam artikel ini. Tentu masih ada beberapa materi yang tidak tercover karena keterbatasan jangkauan pemahaman penulis. Tentu saya harus memohon maaf, terutama kepada pengampu Kajian Kitab ini KH A. Hanif Hasan, pengasuh Pesantren Annuqayah. Semoga Beliau selalu dalam lindungan Allah, dan senantiasa punya waktu dan kesempatan untuk membimbing kami para alumni Annuqayah.
Wallahu A’lam bis Shawab!
