Nggaplek

“Apa kamu kuliah untuk mencari pujian? Menghindari gunjingan?”

Desis angin yang bertiup dari lereng-lereng perbukitan seperti mengulang-ulang pertanyaan bapak itu. Aku kesulitan mencari jawaban pertanyaannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Bukan perkara pujian, Pak. Ini tentang sebuah mimpi. Sebuah asa untuk melihat gemerlapnya masa depan. Sebuah keinginan untuk mengangkat derajat serta martabat keluarga.”

“Apa mimpimu, Git? Katamu saat itu, kuliah adalah mimpimu. Sekarang sudah kamu raih bukan, mimpi itu? Atau kamu sudah bangun dari tidur dan kemudian sadar bahwa mimpimu itu ternyata hanya semu dan palsu?”

“Mimpiku untuk menjadi seorang arsitek masih menyala, Pak. Tak akan dan tak boleh pudar,” tukasku percaya diri.

“Kalau ternyata Tuhan berkehendak mimpimu itu tak akan pernah jadi nyata?” Pertanyaan bapak itu begitu menyakitkanku.

“Itu adalah pertanyaan dari seseorang yang tengah putus asa, Pak. Dan tak ada kata itu dalam diriku,” jawabku mantab.

“Itu yang aku kurang setuju dengan didikan kampus. Mahasiswa disuruh untuk bermimpi. Bercita-cita. Dan tak dibekali dengan kesiapan sikap untuk menerima nasib.”

“Mahasiswa disiapkan untuk menjadi generasi yang tangguh. Tak mudah patah walau datang pukulan keras dari sana-sini. Aku pernah jadi mahasiswa, Pak. Jiwaku tertempa seperti itu. Bapak yang hanya melihat ilmu dari ruang surau sempit, tak pernah melihat dunia dengan cakrawala yang luas,” kata-kataku mulai berbalut emosi.

“Buktinya sekarang kamu patah, Git. Merasakan tekanan dari sana-sini jiwamu sama sekali tak mau melentur sedikit pun. Jiwamu kaku. Saat tak sanggup menahan beban begini kamu patah. Bapak yang ditempa pendidikan di balik dinding-dinding bambu surau ini sebenarnya juga dibekali mimpi. Tapi, adakalanya kita perlu untuk melunak, melentur. Mengikuti gerak takdir. Setelah semua jerih payah untuk menggapai sebuah mimpi telah buntu, tak ada salahnya kau lupakan dulu mimpi itu. Bahagia tak hanya milik mereka yang dapat meraih mimpi, tapi juga milik mereka yang dapat melupakan mimpi itu.”

Sulit lidahku berkelit menandingi untaian kata bapak yang seorang guru ngaji surau tepi sawah bagi segelintir bocah kampung itu.

“Jadi, aku harus nggaplek terus?” tanyaku, merasa semakin bodoh di hadapan bapak.

“Kamu tahu Git? Seseorang yang terlempar dari perahu di tengah lautan seperti apa rasanya?” tanya bapak tiba-tiba.

Kubiarkan pertanyaan itu berkalang suara desisan angin malam.

“Kalau panik dia akan tenggelam. Tapi kalau dia tenang, tersenyum melihat kepungan takdir Tuhan, dia akan mengapung –selamat!”

“Maksud Bapak?” tanyaku.

“Menerima keadaan. Menulikan telinga dari segala gunjingan. Membisukan lidah dari segala bentuk sumpah serapah. Memejamkan mata dari gemerlapnya dunia. Kamu akan jadi pemenang tanpa harus melakukan perlawanan!”

“Nggapleki!!! Lastri Nggapleki!!! Jarene ngejak rabi, jebule mblenjani janji! Jarene nunda rabi mergo pandemi! Jebule mergo dirabi polisi!! Gapleeek!!! Nggaplekiii!!! Tak tinggal nggaplek, malah aku digaplekiii! ”

Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara teriakan Mas Mustari di ujung pohon mahoni yang sedang mencari sinyal untuk menghubungi calon istri. Mas Tari kemudian berdegum jatuh di tengah jemuran gaplek.

One Reply to “Nggaplek”

Tinggalkan Balasan