Nggaplek

“Tidak usah berandai-andai. Pandemi ini nyata-nyata sudah hadir di tengah kehidupan kita.” Bapak menghirup rokok lagi.

“Lik Santoso menertawakanku yang kerja jadi kurir, sama seperti adik iparnya. Bedanya, adik iparnya hanya lulusan SD,” kataku lagi. Mengeluhkan semua resah di hadapan bapak yang selalu bijak meladeni keresahan anak-anaknya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Mas Sigit!” panggil Coro, adikku. Nama aslinya adalah Bagus Kuncoro. Di rumah ia dipanggil Coro, entah apa teman-temannya memanggil ketika masih sekolah dulu. “Singkong bakarnya sudah mateng! Cepetan ke sini sebelum dihabiskan Mas Nur!” teriak Coro lagi.

Aku masih berbaring tak bergeming mendengar panggilan itu. “Katakan saja pada Santoso. Kini kamu sudah berbeda,” bapak memberi saran setelah Coro berhenti berteriak.

“Apanya yang berbeda, Pak? Aku naganggur sekarang. Lebih parah,” tukasku cepat.

“Yang penting kan berbeda. Bukankah yang membuatmu sakit hati adalah karena disamakan dengan adiknya yang cuma lulusan SD?”

“Menghancurkan harkat dan martabat, Pak. Malu-maluin.” Aku menggerutu. Aku beranjak meninggalkan bapak yang kini tengah berbaring di bawah guyuran temaram rembulan serta kerlip bintang-gemintang.

“Temanmu kuliah dulu banyak yang cantik, Git?” tanya Mas Gunawan yang tengah mengunyah singkong gosong. Di balik cahaya api kulihat giginya kehitam-hitaman.

“Banyak Mas. Kenapa?” sahutku cepat. Tanganku telah berjibaku dengan ranting kecil untuk menggali singkong bakar di tengah bara api.

“Barangkali ada yang cocok buat aku,” timpal kakakku yang berusia dua puluh lima tahun itu. Di antara saudara-saudaraku semuanya berselisih dua sampai tiga tahun. Aku berada di urutan ke tiga di antara lima orang saudara. Kakak pertamaku berusia sekitar dua puluh delapan tahun, juga belum menikah.

“Ijazahmu apa Gun? Berani-beraninya mencari istri anak kuliahan,” sindir Mas Mustari, kakak pertama yang sebentar lagi akan menikah. “Sigit yang juga anak kuliahan saja selalu ditolak perempuan-perempuan berpendidikan tinggi itu! Apalagi kamu?”

“Itu karena Sigit tak punya pekerjaan. Coba kalau punya. Cewek itu kalau mencari pasangan yang dilihat pertama kali adalah pekerjaan. Bukan tampang!” timpal Mas Gunawan.

“Nggak juga. Lastri calon istriku itu pertama kali yang dilihatnya dariku adalah kumisku. Masih kuingat kata-katanya ketika pertama kali bertemu di hajatan Mbah Kliman itu. Kumismu, Mas. Rimbun. Bikin hati adem. Ucapnya kala itu.” Mas Tari mengenangkan pertemuan pertamanya.

Setelah mendapatkan dua potong singkong bakar aku beringsut ke samping bapak. Suasana malam kian dingin. Apalagi ketika menjauhi perapian. Kututupi tubuhku dengan kain sarung. Sepotong singkong bakar itu kuberikan pada bapak. Suara kunyahan lembut di mulutnya segera melintas di gendang telingaku.

“Boleh aku ke Bali setelah nggaplek ini usai, Pak?” pintaku.

“Untuk apa?”

“Cari uang. Tak kuat telingaku mendengar gunjingan.”

“Pandemi masih menggila, Git,” sahut bapak.

“Tapi, tak punya uang dan diejek orang-orang juga akan membuatku gila, Pak.”

One Reply to “Nggaplek”

Tinggalkan Balasan