Ngopi dan Tradisi Para Sufi

Dalam riwayat lain dikisah, Khalid, seorang pria Arab, sedang mengembalakan kambing di wilayah Kaffah, sebelah selatan Ethiopia. Pengembala tersebut memperhatikan kambing gembalaannya memakan biji-biji kecil yang berwarna agak gelap. Setelah memakan biji-biji tersebut, terlihat kambingnya lebih segar dan semakin bergairah. Hal tersebut membuat Khalid tergerak untuk membawa biji-biji tersebut ke rumah, kemudian ditumbuk sebagai ramuan, diseduh, dan dijadikan minuman. Dan memang benar, ternyata biji kecil tersebut yang kemudian dikenal sebagai biji kopi, memberikan kesegeran di dalam tubuh.

Sejak itu, biji kopi diekspor dari Ethiopia ke Yaman pada abad ke-10. Hingga akhir abad ke-15, kopi telah mencapai Makkah dan Turki, baru kemudian bisa dinikmati masyarakat Mesir. Penyebaran biji kopi terus mengalami perkembangan yang sangat pesat, hingga kemudian dikenal oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia. Dan kopi akhirnya menjadi legenda yang memberikan manfaat baik dalam hubungan sosial maupun dalam kesehatan jasmani.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sufi Penemu Kopi

Sebagaimana awal mula kopi diseduh, sejak saat itu pula dijadikan washilah kaum sufi untuk tetap terjaga dalam taqarrub kepada Allah. Oleh karena biji kopi memberikan kesegaran, penikmat kopi lebih tahan dari kantuk, maka kemudian kaum sufi memanfaatkan kopi ini untuk tetap fokus dalam zikir.

Dalam riwayat lain, disebutkan biji kopi pertama kali ditemukan pada abad ke-8 Hijriah. Riwayat ini sebagaimana dituliskan oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Husainy Al-Hadramy dari marga Alaydrus (1070-1113 H), dalam kitab berjudul Iinaasush Shofwah bi Anfaasil Qohwah. Ia menjelaskan, jika seorang ulama sufi terkenal, Imam Abul Hasan Ali Asy-Syadzili merupakan sosok penemu kopi pertama.

Menurut kisah, Imam Abu Hasan Ali Asy-Syadzili (seorang sufi) diperintahkan gurunya untuk berzikir selama 40 hari tanpa tidur dan batal wudhu. Namun, yang terjadi, bagaimanapun ia berusaha, selalu gagal karena tertidur. Dalam tidur tersebut, Imam Abu Hasan bermimpi dan mendapat petunjuk untuk memanfaatkan biji kopi sebagai minuman yang dapat menyegarkan tubuh. Sejak itu, kopi menjadi minuman favorit untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam sebuah syair, Abu Hasan Ali Asy-Syadzili mengungkapkan, “Wahai orang-orang yang asyik dalam cinta sejati dengan-Nya, kopi membantuku mengusir kantuk. Dengan pertolongan Allah, kopi menggiatkanku taat beribadah kepada-Nya di kala orang-orang sedang terlelap.”

Kopi dan Doa

Kopi yang semula meruakan minuman kaum sufi, sekarang sudah menjadi minuman siapa saja, dan semakin memberikan berkah apabila diminum dengan porsi yang benar dan dosis yang tepat. Lebih-lebih lagi apabila diminum dengan terlebih dahulu membaca doa sebagaimana yang diajarkan dan dianjurkan oleh Rasulullah. Sebab, hanya dengan perlakuan yang benar serta tujuan yang tepat (doa), segala hal akan mencapai maksudnya (taqarrub ilallah).

Tinggalkan Balasan