Nilai Kemanusiaan dalam Film Hayya 2

Hayya yang merindukan kedamaian, yang ia tidak dapatkan di negerinya, membawanya berlabuh pada suatu negeri bernama Indonesia. Saya rasa pemilihan Indonesia sebagai pelarian Hayya, manjadi suatu simbol yang merepresentasikan adanya perbedaan yang bisa dibina dengan damai dalam bingkai persatuan. Latar heterogenitas etnis, budaya, dan agama bisa membentuk mozaik keharmonisan dalam hidup berdampingan.

Di Indonesia Hayya menemukan kedamaian, baik sebagai warga negara dan sebagai anak yang mendapat kehangatan dari keluarga. Keinginan menetap kian bergejolak, bahkan di saat ia sendiri harus memerankan seorang anak yang baru saja hilang dari satu keluarga yang menerimanya. Ia tidak ingin kembali ke tanah airnya lagi setelah konflik perang merenggut nyawa keluarganya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari sini, film Hayya 2 menekankan kondisi internal manusia yang terus bergejolak tatkla berada dalam kecamuk perang yang terus berkelanjutan. Rasa takut dan terancam terus menghantui dalam aktivitas keseharian. Isu kemanusiaan yang dibangun dalam film ini ingin mengembalikan kemerdekaan kepada segenap manusia secara utuh yang sejatinya melekat secara intriksional tanpa harus dihalangi oleh konflik eksternal antarkepentingan.

Moralitas Manusia

Sisi-sisi kemanusiaan yang dieksplor begitu apik dalam film Hayya 2 dimaksudkan untuk mengundang empati kolektif tentang karut-marut kehidupan dalam kondisi perang. Dramaturgi sosial yang telah merenggut nasib banyak orang, seyogiyanya menjadi suatu penyadaran kepada manusia bahwa eksistensinya tidak lepas dari tanggung jawab moral ihwal kemanusiaan.

Hal ini selaras dengan tatanan etis yang mengendap dari kondisi ontis manusia sebagai makhluk sosial. Sejatinya, ia memiliki empati besar dan sensitif terkait isu kamanusiaan. Terbentuknya sistem sosial, legal kenegaraan, dan kepercayaan teisme dalam sejarah panjang manusia sebenarnya adalah bentuk akumulasi kesadaran untuk membangun relasi dan interaksi manusia dalam koridor nilai sublim dan kultus kemanusiaan (Savigny, 1999: 117).

Tinggalkan Balasan