Seorang Novelis Indonesia, Habiburrahman el-Shirazy (Kang Abik), yang hadir sebagai Pimpinan MUI juga angkat berkomentar dalam hal ini. Ia menyadari Palestina masih belum mendapatkan apa yang disebut, “kemerdekaan bangsa”. Palestina masih dalam kondisi memperjuangkan itu. Oleh karenanya, kita memilik tanggung jawab moral di dalamnya.
Isu kemanusiaan yang dibangun seharusnya mewujud dalam spirit moral dalam bingkai persaudaraan sesama manusia. Bahwa antara manusia yang satu dan yang lain terikat dalam tanggung jawab moral, baik dalam relasinya sebagai persaudaraan setanah air (ukhuwah wathaniyah), saudara seagama (ukhuwah Islamiyah), maupun saudara sesama manusia (ukhuwah insaniyah).

Kang Abik menilai, nilai moralitas yang paling mendasar dari film Hayya adalah dakwah kemanusiaan dan tanggung jawab moral, utamanya seorang muslim. Disebut sebagai dakwah kemanusiaan karena mengangkat isu kemanusiaan sebagai isu utama yang hendak disampaikan. Selain juga secara meteriil, hasil penjualan tiket nantinya sebagian besar juga akan didonasikan untuk penduduk Palestina yang mengalami devisit ekonomi akibat kondisi negara yang tidak stabil.
Selanjutnya, dikatakan tanggung jawab moral seorang muslim karena memelihara Masjidil Aqsha sebagai satu dari tiga tempat suci dan bersejarah bekas dakwah Islam Rasulullah Saw. Dengan tokoh Hayya yang merindu Masjidil Aqsha untuk bermunajat di sana, terpaksa hanya menjadi ilusi karena kondisi perang yang belum berhenti.
Akhirnya, film ini adalah bentuk kepedulian yang ingin mengulik sisi berkemanusiaan kita kepada sesama. Konsistensi nurani kita sebagai manusia diuji pada sekelumit fenomena sosial yang mengakibatkan suatu bangsa terhalang kemerdekaan dan kebebasannnya. Jadi, sesuai dengan judul, film Hayya berusaha mengajak kita merenungi ulang perilaku kemanusiaan.
Film ini diharapkan dapat dikonsumsi oleh seluruh kalangan masyarakat di Indonesia agar menjadi koreksi bersama tentang kebangsaan, keberagamaan, atau keberpolitikan kita dewasa ini yang acap kali bermuara pada kekerasan. Film ini akan manjadi evaluasi, di samping sistem-sistem sosial yang secara berkelanjutan terus dibangun oleh manusia, ada hal yang elementar dari kehidupan kita, yakni tatanan moralitas dan etika kemanusiaan.
