Dalam kalender Islam, malam Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) memiliki tempat tersendiri bagi sebagian besar umat Muslim.
Di banyak negara, termasuk Indonesia, malam ini dirayakan dengan berbagai bentuk ibadah seperti salat sunah, doa bersama, serta tilawah Al-Qur’an.
![](https://i0.wp.com/www.duniasantri.co/wp-content/uploads/2022/09/Duniasantri-Telegram-Acquistion.jpeg?fit=1280%2C720&ssl=1)
Selain itu, ada satu tradisi yang cukup mengakar di masyarakat kita: saling meminta maaf menjelang datangnya bulan Ramadan.
Fenomena ini menimbulkan dua sudut pandang yang menarik untuk dikaji: apakah tradisi maaf-maafan sebelum Ramadan ini memiliki dasar keagamaan yang kuat, ataukah lebih merupakan bentuk kearifan budaya yang berkembang di masyarakat?
Nisfu Sya’ban dalam Perspektif Islam
Secara teologis, Nisfu Sya’ban memang disebut dalam beberapa hadis, meskipun sebagian ulama masih memperdebatkan tingkat keabsahannya. Salah satu hadis yang sering dikutip adalah:
“Sesungguhnya Allah melihat makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu mengampuni seluruh ciptaan-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang saling bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).
Hadis ini sering menjadi dasar bagi umat Islam untuk memperbanyak doa dan istighfar pada malam Nisfu Sya’ban. Dalam berbagai tafsir, malam ini dianggap sebagai salah satu momentum di mana Allah membukakan pintu ampunan-Nya, layaknya malam Lailatul Qadar.
Oleh karena itu, tradisi beribadah secara khusus pada malam ini berkembang di berbagai komunitas Muslim.
Namun, terkait dengan tradisi maaf-maafan yang dilakukan menjelang Ramadan, tidak ada dalil khusus yang mewajibkan atau mensyariatkannya secara langsung.
Islam sendiri sangat menganjurkan pembersihan hati dari dendam dan kebencian kapan saja, tanpa harus menunggu momentum tertentu. Bahkan, dalam Islam, memaafkan adalah tindakan yang dianjurkan setiap saat, bukan hanya ketika mendekati Ramadan atau Nisfu Sya’ban.
Antara Tradisi dan Esensi Memaafkan
Lalu, bagaimana dengan fenomena saling maaf-maafan yang marak dilakukan pada Nisfu Sya’ban?
Banyak orang menganggap tradisi ini sebagai bagian dari persiapan spiritual sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Secara psikologis, memaafkan orang lain bisa menjadi cara untuk membersihkan hati dan meningkatkan kualitas ibadah.
Dalam konteks sosial, tradisi ini juga memiliki nilai positif, terutama dalam mempererat hubungan antarindividu yang mungkin sebelumnya memiliki konflik atau kesalahpahaman.
Namun, yang perlu dihindari adalah menjadikan tradisi ini sebagai sekadar formalitas tanpa makna yang mendalam. Sering kali, permintaan maaf yang dilakukan hanya menjadi basa-basi tanpa ada perubahan sikap yang nyata.
Memaafkan bukan sekadar mengucapkan “maaf lahir batin” melalui pesan singkat atau media sosial, tetapi seharusnya menjadi bagian dari kesadaran spiritual untuk benar-benar memperbaiki hubungan dengan sesama.
Nisfu Sya’ban memang memiliki nilai tersendiri dalam Islam, terutama dalam aspek istighfar dan mendekatkan diri kepada Allah. Sementara itu, tradisi saling maaf-maafan menjelang Ramadan lebih merupakan praktik budaya yang berkembang di masyarakat, bukan kewajiban syariat.
Namun, terlepas dari asal-usulnya, memaafkan adalah tindakan yang mulia dan dianjurkan dalam Islam. Yang lebih penting dari sekadar menjalankan tradisi adalah memastikan bahwa pemaafan yang diberikan benar-benar berasal dari hati, serta diiringi dengan upaya memperbaiki hubungan antarmanusia secara lebih mendalam.
Maka, daripada sekadar mengikuti tren saling mengirim pesan maaf di Nisfu Sya’ban atau menjelang Ramadan, lebih baik kita membiasakan diri untuk memaafkan kapan saja, serta menjadikan setiap hari sebagai momentum untuk membersihkan hati dari dendam dan kebencian.
Sebab, esensi memaafkan sejati tidak bergantung pada waktu, tetapi pada kesadaran bahwa kedamaian sejati lahir dari hati yang tulus dan bersih.