Era PR 5.0 menuntut juru bicara yang multitalenta: paham agama, teknologi, dan komunikasi massa. Di sinilah santri generasi baru perlu mengambil peran. Hal tersebut pernah diungkapkan oleh Alissa Wahid, koordinator Jaringan Gusdurian, “Dunia ini sedang krisis narasi. NU punya harta karun narasi, tinggal bagaimana santri bisa mengemas dan menyebarkannya.”
Untuk itu, ada beberapa peran yang bisa dijalani santri dalam kerangka PR 5.0 NU, misalnya, menjadi kreator konten Islami di TikTok dan Instagram, menulis opini untuk media online mainstream, dan manajer komunitas digital di pesantren, majelis, dan organisasi NU.

Karena itu, berikut hal-hal yang direkomendasikan sebagai langkah strategis NU ke depan dalam kerangka PR 5.0. Pertama, pelatihan PR digital untuk santri dan LTN NU yang berfokus pada storytelling, crisis response, dan content creation.
Kedua, pemetaan persepsi publik dengan menggunakan big data untuk mengetahui persepsi anak muda tentang NU.
Ketiga, menyebarkan narasi proaktif, bukan reaktif. Dalam konteks ini, jangan hanya membantah hoaks, tapi mengendalikan wacana dengan narasi solutif dan empatik.
Keempat, investasi pada tokoh-tokoh digital NU muda dengan cara melakukan pembinaan kader NU yang menjadi influencer dengan akhlak dan wawasan kuat.
Dakwah Bernarasi, Bertenaga, dan Bermartabat
NU memiliki aset luar biasa: jaringan kiai, jutaan santri, budaya luhur, dan semangat cinta damai. Tapi tanpa komunikasi strategis, semua itu bisa tertinggal oleh organisasi yang lebih cepat dan terampil di media.
PR 5.0 bukan sekadar alat pencitraan, melainkan alat dakwah masa depan. Lewat narasi yang otentik, teknologi yang tepat, dan nilai-nilai Islam yang luhur, NU bisa terus menjadi garda terdepan dalam membangun peradaban yang damai dan bermartabat.
