NU Trans-nasional
Sekarang ini marak didiskusikan, diperdebatkan (mujadalah hasanah), dan sedikit diributkan ketika NU mengikuti arus trans-nasional. Sejatinya, membangun sebuah bangsa merupakan kewajiban seluruh elemen masyarakat. NU sebagai organisasi terbesar Islam di Indonesia memiliki kewajiban untuk turut serta dalam membangun peradaban. Jika kemudian lahir lembaga Majlis Ulama Indonesia (MUI), itu artinya keberadaan Islam diakui sebagai bagian dari pembangun peradaban bangsa. Jangan sampai keberadaan MUI dijadikan bumerang sebagai dasar untuk mendeskriditkan agama minoritas yang ada di Indonesia.

NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia tengah mengadakan Harlah (hari lahir) yang ke-95, pada tanggal 31 Januari 2021. Momentun ini semakin memperjelas kedudukan NU di negara demokratis ini. Sebab dalam muktamar NU 1984, NU menyatakan bahwa ideologi Pancasila sejalan dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, NU menjadi garda terdepan dalam menjaga kemurnian Haluan Ideologi Pancasila. Dalam butir-butir Pancasila tidak ada yang bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu, maka eksistensi Pancasila menjadi ideologi yang sejalan dengan Islam.
Islam adalah agama Ilahi yang tidak bertentangan Pancasila. Sebaliknya, Pancasila adalah ideologi negara yang sejalan dengan syariat Islam. Merupakan sebuah keniscayaan manakala NU, sebagai organisasi terbesar di Indonesia, berusaha untuk membangun bangsa dengan kearifan Nusantara. Pembangunan bangsa menjadi kewajiban bersama, termasuk organisasi NU, untuk menjadi pioner kebaikan bagi seluruh elemen bangsa dengan ragam agama, tradisi, dan lain sebagainya.
NU adalah organisasi keagamaan yang harus menjadi pialang dalam pembangunan etika. Tidak boleh terjadi hal-hal yang menciderai eksistenai organisasi, seperti mengebiri minoritas yang ada di Indonesia. Sesuai dengan konsep dasar (qanun asasi) yang ditulis oleh pendiri organisasi ini, KH Hasjim Asy’ari, bahwa tidak ada perjungan tanpa pengorbanan, dan tidak ada pengorbanan tanpa perjuangan.
“Berjuang tidak harus menang,” kata KH A Warits Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah.
“Jangan berjuang kalau tidak mau berkorban, karena perjuangan butuh pengorbanan,” kata KH As’ad Syamsul Arifin yang disampaikan oleh KH Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy’ari ketika akan mendirikan organisasi NU.
“Tidak ada perjuangan yang sia-sia,” seperti diungkapkan oleh santri Annuqayah daerah Lubangsa Raya di akun youtube-nya. Wallahu A’lam!
