Nufusu Auliya’

Ayah Auliya’ menelepon ayah Nufus. Ayah Nufus berkata, “Engkau tahu benar kawan, bahwa ada dua hal yang sangat penting bagi kebahagiaan, yaitu Cinta dan Kekayaan. Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku sanggup memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia dan menyenangkan.

Mendengar hal itu, ayah Auliya’ pun menjawab, “Bukannya aku menolak Nufus.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan terhormat,” jawab ayah Auliya’. “Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu. Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti sudah lama tidak mandi dan ia pun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak. Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?”

Ayah Nufus tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu anaknya adalah teladan utama bagi kawan-kawan sebayanya? Dahulu Nufus adalah anak yang paling cerdas dan berbakat di seantero Andalusia? Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya. Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya. Sudah lama orang tidak mendengar ucapan bermakna dari Nufus. “Aku tidak akan diam berpangku tangan dan melihat anakku menghancurkan dirinya sendiri,” pikirnya. “Aku harus melakukan sesuatu.”

Ketika ayah Nufus kembali pulang, ia menjemput anaknya. Ia memutuskan agar Nufus dikirim ke Maqom Syaikh Andalusia dengan harapan bahwa Allah akan merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang menghancurkan ini. Di Andalus ini, untuk menyenangkan ayahnya, Nufus bersujud di depan altar Maqom, tetapi apa yang ia mohonkan? “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja, tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.”

Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk anaknya. Usai menunaikan doanya itu, Nufus yang tidak mau lagi bergaul dengan orang banyak di desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia tidak kembali ke asramanya. Alih-alih sifatnya yang berubah drastis, rasa kasih sayang pun berubah menjadi kepedihan.

Suatu hari, murid baru di pesantren melewati reruntuhan bangunan dan melihat ada sesosok aneh yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan rambut panjang hingga ke bahu, panjang dan acak-acakan, bajunya compang-camping dan kumal. Ketika sang murid mengucapkan salam dan tidak beroleh jawaban, ia mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di kakinya. “Hus,” katanya, “Jangan bangunkan sahabatku.” Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah kejauhan.

Sang murid pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa yang akan terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu bahwa ini adalah Nufus yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya dibicarakan orang di seluruh jazirah Andalusia. Tampaknya, Nufus tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari kehidupan liar dan buas itu.

Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui bahwa Nufus tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas seperti serigala sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Nufus. Sang murid itu mendengarkan Majnun (Nufus) melantunkan berbagai kidung pujiannya pada Auliya’. Mereka berbagi sepotong roti yang diberikan olehnya.

Kemudian, sang murid itu pergi dan melanjutkan petjalanannya. Ketika tiba di asrama Nufus, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya, sang kepala suku (Bahrul Ulum) mendengar berita itu. Ia mengundang sang murid ke rumahnya dan meminta keterangan rinci darinya. Merasa sangat gembira dan bahagia bahwa Nufus  masih hidup.

Ayah Nufus pergi ke Bahrul Ulum untuk menjemputnya. Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang murid itu, ayah Nufus dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknya terjerembab dalam keadaan mengenaskan seperti ini.

“Ya Tuhanku, aku mohon agar Engkau menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami,” jerit sang ayah menyayat hati. Nufus mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan bersimpuh di bawah kaki ayahnya, ia pun menangis, “Wahai Ayah, ampunilah aku atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan beban kesedihan Ayah. Ini sudah nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk mencinta.” Ayah dan anak pun saling berpelukan dan menangis. Inilah pertemuan terakhir mereka.

Keluarga Auliya’ menyalahkan ayah Auliya’ lantaran salah dan gagal menangani situasi putrinya. Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruh keluarga, karenanya orangtua Auliya’ memingitnya dalam kamarnya. Beberapa sahabat Auliya’ diizinkan untuk mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia berpaling ke dalam hatinya, memelihara api cinta yang membakar dalam kalbunya.

Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang terdalam, ia menulis dan menggubah syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan kertas kecil. Kemudian, ketika ia diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan potongan-potongan kertas kecil ini dalam embusan angin. Orang-orang yang menemukan syair-syair dalam potongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Nufus. Dengan cara demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan. Karena Nufus sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang mengunjunginya.

Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu bahwa Majnun tidak kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannya melantunkan syair-syair indah. Sebagian orang merasa iba kepadanya, sebagian lagi hanya sekadar ingin tahu tentang

kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dan kasih sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalah seorang ksatria gagah berani bernama ‘Amar, yang berjumpa dengan Nufus dalam perjalanannya menuju Andalusia. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat terkenal itu di kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Nufus sendiri.

Auliya’ semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ia nikmati adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannya menuju taman, Irsyad, anak seorang Syaikh, bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Auliya’ dan serta-merta jatuh cinta kepadanya. Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencari ayah Auliya’. Merasa lelah dan sedih hati karena peristiwa Nufus itu, ayah Auliya’ pun menyetujui perjodohan itu.

Tentu saja, Auliya’ menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, “Aku lebih senang pindah ketimbang kawin dengan orang itu.” Akan tetapi, tangisan dan permohonannya tidak digubris. Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama saja keadaannya. Hingga suatu saat Auliya’ pindah ke suatu tempat, dengan tujuan agar selamat dari bangsawan tersebut. Namun semua hanya sia-sia. Meski lama ia sembunyi, namun tetap saja orangtuanya bersikukuh dan menerima perjodohan itu.

Perjodohan itu pun berlangsung dalam waktu singkat. Orangtua Auliya’ merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya berakhir juga. Akan tetapi, Auliya’ menegaskan kepada calon suaminya bahwa ia tidak pernah bisa mencintainya. “Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri,” katanya. “Karena itu, jangan membuang buang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin, masih ada banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia.”

Sekalipun mendengar kata-kata dingin ini, Irsyad percaya bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapa waktu lamanya, pada akhirnya Auliya’ pasti akan menerimanya. Ia tidak mau memaksa Auliya’, melainkan menunggunya untuk datang kepadanya.

Ketika kabar tentang perjodohan Auliya’ terdengar oleh Nufus, ia menangis dan meratap selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-lagu yang demikian menyayat hati dan mengharu biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikut menangis. Nufus kecewa dan mengatakan bahwa “Auliya’ tidak setia, Auliya’ kamu berbohong”.

اَيُّهَا القَلبِ عش خاليا ودع عنك محبة كل من لا وفأءله

ندمت على ما كان منى ندامة

كما يندمو المغبون حين يبيع

فوؤادى بين اضلاعى غريب

ينادى من يحب فلا يحيب

مناي دعينى فالهوى متعلقا

فقد متى الا اننى لم ازر قبرى

عليك سلام الله ياغية المنى

وقاتتى حتى القيامة والحشر

Duhai hatiku, hiduplah menyepi, tinggalkan mencintai orang yang tak setia

Aku menyesali apa yang telah terjadi

Bagai penyesalan orang yang tertipu saat menjual

Hatiku tiba-tiba jadi asing meski bersemayam dalam diri

Tinggalkan Balasan