Nufusu Auliya’

Ia memanggil manggil Kekasihnya, namun tak ada jawaban

Duhai harapanku, biarkan aku bergantung pada cinta ini

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meski aku sudah mati, diriku belum menziarahi kuburku

Semoga Allah memberimu kedamaian, Duhai harapanku satu satunya

Dan yang akan membunuhku kelak hari kiamat dan mahsyar

Derita dan kepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yang berkumpul di sekelilingnya pun turut bersedih dan menangis. Namun, kesedihannya ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba Majnun merasakan kedamaian dan ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apa-apa, ia pun terus tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Auliya’ tidak berubah dan malah menjadi semakin lebih dalam lagi.

Dengan penuh ketulusan, Nufus menyampaikan ucapan selamat kepada Auliya’ atas perjodohannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya meminta satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku, sekalipun engkau telah memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah lupa bahwa ada seseorang yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya akan memanggil-manggil namamu, Auliya’”.

Sebagai jawabannya, Auliya’ mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda pengabdian tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, “Dalam hidupku, aku tidak bisa melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian lama, tanpa mampu menceritakannya kepada siapa pun. Engkau memaklumkan cintamu ke seluruh dunia, sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau membakar segala sesuatu yang ada di sekelilingmu. Kini, aku harus menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal segenap jiwaku menjadi milik orang lain. Katakan kepadaku, Kasih, mana di antara kita yang lebih dimabuk cinta, engkau ataukah aku?.

هذه الرسالة مني

انا رهينة الدار وقعيداة البيت

اليك يا من حطم القيد وصار حرا فى السهولى والجبالى

انت شبيه عين ماء الخضر تألقا

Surat dari ku (Aliya’)

Seorang wanita yang terpenjara dan hanya bisa duduk di dalam rumahnya

Untukmu duhai kekasihku, apa kabarmu, Kekasih?

Bagaimana hari harimu? Dengan siapa Kau menjalani waktu di lembah dan gunung itu?

Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya hanyalah Nufus semata? Auliya’ sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup bertahan lama. Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa bulan pun menggerogoti kesehatannya. Ketika Auliya’ meregang nyawa dan sekarat, ia masih memikirkan Nufus. Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi untuk terakhir kalinya! Ia hanya membuka matanya untuk memandangi pintu kalau-kalau kekasihnya datang. Namun, ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam perpisahan kepada Nufus.

Pada suatu malam di musim dingin, dengan matanya tetap menatap pintu, ia pun meninggal dunia dengan tenang sambil bergumam, Nufus… Nufus… Nufus.

كيف انت تحتى اطباق الترى؟.

وكيف انت فى ظلمات القبر؟.

اذا غبت عني فشمائلك ملا روحي

واذا نايت عن بصرى فانت امام عين بصيرتى

ولئن رحلتفألمك فى النفس مقيم

Duhai jiwaku bagaimana keadaanmu di dalam tumpukan debu ini?

Bagaimana keadaanmu dalam kubur ini?

Meski aku tak lagi memandang wajahmu, tetapi seluruh jiwamu memenuhi ruhku

Meski engkau jauh di mata, diriku melihat dengan mata jiwaku di hati

Meski jiwamu telah pergi namun lukamu ada dalam jiwaku.

Kabar tentang kematian Auliya’ menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama kemudian, berita kematiannya pun terdengar oleh Nufus. Mendengar kabar itu, ia pun jatuh pingsan di tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri selama beberapa hari. Ketika kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju desa Auliya’. Nyaris tidak sanggup berjalan lagi, ia menyeret tubuhnya di atas tanah. Nufus bergerak terus tanpa henti hingga tiba di kuburan Auliya’ di luar kota. Ia berkabung di kuburannya selama beberapa hari. Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya, perlahan-lahan ia meletakkan kepalanya di kuburan Auliya’ kekasihnya dan meninggal dunia dengan tenang. Jasad Nufus tetap berada di atas kuburan Auliya’ selama setahun. Ketika segenap sahabat dan kerabat menziarahi kuburannya, mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas kuburan Auliya’. Beberapa teman sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu adalah jasad Nufus yang masih segar seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di samping Auliya’. Tubuh dua kekasih itu, yang kini bersatu dalam keabadian, kini bersatu kembali.

Konon, tak lama sesudah itu, ada seorang sufi bermimpi melihat Nufus hadir di hadapan Tuhan. Allah membelai Nufus dengan penuh kasih sayang dan mendudukkannya disisi-Nya. Lalu, Tuhan pun berkata kepada Nufus, “Tidakkah engkau malu memanggil-manggil-Ku dengan nama Auliya’, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?”

Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Jika Nufus diperlakukan dengan sangat baik dan penuh kasih oleh Allah, ia pun bertanya-tanya, lantas apa yang terjadi pada Auliya’ yang malang? Begitu pikiran ini terlintas dalam benaknya, Allah pun mengilhamkan jawaban kepadanya, “Kedudukan Auliya’ jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasia Cinta dalam dirinya sendiri.”

ان الحب الحقيقى بين بشر هو البداية لتعرف الى الله والشعور بمحبته وفيض عطأئه وكرمه

Sesungguhnya cinta yang tulus antara manusia adalah awal perjalanan menuju perkenalan kepada Tuhan, memasuki pengalaman men-Cintai-Nya dan limpahan anugerah kemurahan-Nya. (Ibnu al-Farabi).

Tinggalkan Balasan