Dalam proses kemerdekaan bangsa ini, para bapak bangsa atau pendiri Negara seperti Muhammad Yamin, Supomo, KH Wahid Hasyim, dan lain-lain menggali kearifan lokal yang tertulis dalam kitab-kitab kuno misalnya Negara Kertagama karya Mpu Prapanca dan Sutasoma karya Mpu Tantular. Para wali dan kiai, berdasar kitab suci al-Quran dan sirah Nabawiyah, membaca kitab kehidupan Nusantara.
Pada 1942, selepas dari penjara Belanda, Soekarno melawat ke Perguruan Darul Funun al-Abbasiyah di Puncakbakung, Padang. Bung Karno sowan kepada Syeh Abbas dan Syeh Mustafa Abdullah, murid Syeh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, untuk membicarakan konsep dasar dan penyelenggaraan negara. Soekarno juga menemui RM Panji Sosrokartono, KH Abdul Mu’thi Madiun, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari di Jombang dan muridnya KH Ahmad Basyari Cianjur. Soekarno muda, saat berguru kepada HOS Tjokroaminoto, ditiup ubun-ubunnya oleh Syaichona Kholil Bangkalan.

Soekarno, melalui kontemplasi spiritual dan perenungan intelektual, merumuskan Pancasila: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial dalam pidatonya di sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 1 Juni 1945.
Pancasila, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, merupakan kesepakatan segenap elemen bangsa Indonesia untuk mendirikan dan menyelenggarakan negara Republik Indonesia. Pancasila yang nilai-nilainya melampaui sekat-sekat agama, etnis, budaya, bahasa, dan politik adalah kearifan lokal bangsa Indonesia sebagaimana Piagam Madinah merupakan kearifan Rasulullah Muhammad SAW untuk mempersatukan masyarakat Madinah yang juga beragam.
