Kang Ali merupakan santri senior yang sudah mengabdi bertahun-tahun di pondok pesantren. Menjadi orang kepercayaan Kiai Makdum.
Dia selalu diberi tanggung jawab yang besar untuk mengurus pondok pesantren dan menjadi tangan kanan Kiai Makdum. Bila kiai muda itu ada jadwal pengajian di luar kota, dia selalu menggantikannya untuk memimpin pengajian rutin bersama puluhan santri. Soal ilmu, Kang Ali sudah mumpuni. Kang Ali sudah belajar dari pondok ke pondok, menyantri sana-sini.

Kiai Makdum memiliki dua putra dan satu putri yang masih belia. Kiai Makdum terpaut usia tujuh tahun dengan Nyai Hanifah. Dan, memang wanita itu masih memancarkan kecantikan. Kulitnya putih langsat dipadu dengan wajah yang terlihat masih muda, manis beralis tebal, hidungnya mancung. Setiap orang pasti tahu, jika wanita itu memang cantik. Belum ada tanda-tanda penuaan. Wajahnya selalu bersinar. Mungkin karena setiap waktu dibasuh dengan air berwudu.
Kabar Kang Ali yang ada rasa terhadap Nyai Hanifah sudah tersebar di lingkungan pesantren. Kabar itu seperti jamur di musim hujan. Banyak gunjingan di kalangan santri.
Sering kali Kang Ali keluar masuk ndalem. Hal itu membuat beberapa santri lain mengasumsikan, jika Kang Ali sedang melakukan pendekatan dengan keluarga ndalem, terlepas dari tugasnya sebagai santri yang dituakan.
Anggapan tersebut juga dikuatkan dengan Kang Ali dekat dengan ketiga anak dari pengasuh. Bahkan putri yang paling bungsu selalu digendong Kang Ali, dan diajak ke mana-mana.
Berbagai gunjingan menyeruak di kalangan santri, terutama santri senior. Mereka menganggap bahwa Kang Ali licik, sebab, selain ingin mendapatkan Nyai Hanifah, dia juga ingin menggantikan posisi Kiai Makdum sebagai pengasuh pesantren.
Anggapan-anggapan itu semakin meruncing, karena mereka beranggapan bahwa Kang Ali-lah yang jadi penyebab Kiai Makdum meninggal gara-gara kecelakaan yang direkayasa.
Mendengar selentingan-selentingan seperti itu, Kang Ali menjadi naik pitam. Akibatnya, terjadilah pertengkaran. Akhirnya beberapa santri senior memilih boyong dari pesantren, membuat kondisi pesantren semakin kacau. Banyak kegiatan pesantren menjadi terbengkalai, gara-gara pengurusnya sebagian besar keluar. Bahkan pesantren terancam bubar.
Setelah ada gonjang-ganjing di dalam tubuh pesantren, Kang Ali menemui Nyai Hanifah di ndalem. Dia menceritakan bahwasanya, beberapa pengurus mengundurkan diri dan memilih boyong. Dan, dia mengatakan bahwa kondisi pesantren saat ini sedang tidak kondusif, butuh sosok yang bisa menjadi pengayom dalam memimpin pesantren. Alih-alih menyelesaikan masalah, dia malah memanfaatkan situasi itu. Secara garis besar, dia membujuk Nyai Hanifah untuk segera melepaskan status kesendiriannya. Tentu saja, dia berharap, dia yang terpilih sebagai lelaki yang akan menggantikan Kiai Makdum.
