Saya dan teman-teman memberanikan diri untuk sowan lagi kepada beliau dengan maksud yang berbeda. Sesuai dengan salah satu program kerja KOPRI adalah kajian kitab Risalatul Mahid, sebagai bekal fikih perempuan yang harus dimiliki oleh seluruh kader putri karena hal ini berkaitan erat dengan urusan ibadah setiap hari seperti salat.
Sesampainya di sana, beliau memberikan saran untuk mengganti kitab kajiannya. Bukan tanpa alasan, melainkan beliau menganggap ilmu ini sudah didapatkan sahabat-sahabat KOPRI semasa nyantri. Kalaupun ada yang belum, bisa dipelajari bersama melalui berbagai media karena pada dasarnya ilmu haid adalah ilmu yang sudah pasti kebenarannya. Beliau berharap kader KOPRI perlu dibekali ilmu yang lebih dalam tentang hadis.

Tanpa bermaksud mengintervensi, beliau menawarkan untuk mengkaji kitab Uqudul Ujain atau Hadis Arbain Nawawi. Tanpa diskusi panjang, kami sepakat untuk mengkaji kitab Hadis Arbain Nawawi secara lebih dalam bersama kader PMII ITS NU Pekalongan, dan beliau adalah salah satu anggota majelis pembina PMII komisariat tersebut.
Saya melihat relasi kebermanfaatan yang dilakukan oleh beliau dan suaminya. Bersama Kiai Mustofa, Ibu Nyai Masnunah merintis dan mengelola Pondok Pesantren Nurul Falah MAN Pekalongan, mendirikan SDIT Bahrul Ulum pada tahun 2010, dan mendirikan Pesantren Darul Dzikir yang bermotto zikir, fikir, amal saleh sesuai dengan trimotto PMII.
Dukungan dan kepercayaan menjadi dasar relasi Ibu Nyai Masnunah bersama suaminya. Kedunaya sama-sama mengoptimalkan potensinya untuk menebar kemanfaatan kepada masyarakat. Relasi sehat dapat membangun generasi yang bermartabat.
