Nyai Rahmatun (1): Penerobos Sekat Gender

Namun, secara diam-diam, Rahmatun justru mengajak teman-temanya yang sekaligus santri, bukan bermain di bawah rindangnya pohon sawo, namun malah memanjatnya. Bukannya takut, malah penasaran dengan sosok jin.

Saat itu, pada awalnya teman-temannya menolak ajakannya karena takut. Tak kurang akal, Rahmatun yang masih gadis kecil itu meyakinkan teman-temannya bahwa justru jin yang akan ketakutan kepada manusia yang membaca taawwudz, ayat kursi, dan kalimat-kalimat thayyibah lainnya. Jin itu, katanya kepada teman-temannya, akan lari terbirit-birit dan terbakar oleh bacaan-bacaan itu. Atas bujukannya itu, teman-temannya menjadi luluh, dan sambil komat-kamit mulailah mereka satu per satu memanjat pohon sawo hingga ke atas — dan tentu saja mereka tidak pernah melihat jin di sana.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ditinggal wafat oleh ibunya pada usia 4 tahun, menjadikan Rahmatun terbiasa hidup mandiri sejak belia. Ia hanya diasuh oleh ayahnya, K Nur, dengan dibantu para santri putri. Maka, tidak heran jika Rahmatun tidak sempat bermanja-manja seperti anak kecil pada umumnya.

Pada usia 7 tahun, Rahmatun telah dipondokkan oleh ayahnya di rumah kakeknya sendiri di Desa Pangurai, Sumenep. Di pondok itulah Rahmatun besama santri-santri yang lain belajar dan mengaji kitab di Madrasah Muallimin atau setara Madrasah Diniyah dengan sistem halaqah. Materi yang dipelajari waktu itu antara lain ilmu tajwid, tauhid, hahu-saraf, fikih, tarikh Islam, akhlak, dan juga diajari tulis menulis latin.

Tidak berhenti di situ. Setelah berhenti mondok dan menikah, Rahmatun tetap ngasok (belajar secara otodidak) kepada kakak-kakaknya sendiri, di antaranya, belajar tafsir Al-Quran dan Hadis kepada KH Syamsul Arifin Nur yang lulusan Mekkah; belajar fikih dan ilmu alat seperti nahu, i’lal-saraf,  dan balaghah kepada KH Abdul Khalik Nur; dan belajar Bahasa Arab dan tarikh Islam kepada K Muhammad Amin Nur. Bahkan, Rahmatun juga tidak gengsi belajar kepada adiknya sendiri yang alim allamah K Abdul Wahid Nur.

2 Replies to “Nyai Rahmatun (1): Penerobos Sekat Gender”

Tinggalkan Balasan