Namun, secara diam-diam, Rahmatun justru mengajak teman-temanya yang sekaligus santri, bukan bermain di bawah rindangnya pohon sawo, namun malah memanjatnya. Bukannya takut, malah penasaran dengan sosok jin.
Saat itu, pada awalnya teman-temannya menolak ajakannya karena takut. Tak kurang akal, Rahmatun yang masih gadis kecil itu meyakinkan teman-temannya bahwa justru jin yang akan ketakutan kepada manusia yang membaca taawwudz, ayat kursi, dan kalimat-kalimat thayyibah lainnya. Jin itu, katanya kepada teman-temannya, akan lari terbirit-birit dan terbakar oleh bacaan-bacaan itu. Atas bujukannya itu, teman-temannya menjadi luluh, dan sambil komat-kamit mulailah mereka satu per satu memanjat pohon sawo hingga ke atas — dan tentu saja mereka tidak pernah melihat jin di sana.

Ditinggal wafat oleh ibunya pada usia 4 tahun, menjadikan Rahmatun terbiasa hidup mandiri sejak belia. Ia hanya diasuh oleh ayahnya, K Nur, dengan dibantu para santri putri. Maka, tidak heran jika Rahmatun tidak sempat bermanja-manja seperti anak kecil pada umumnya.
Pada usia 7 tahun, Rahmatun telah dipondokkan oleh ayahnya di rumah kakeknya sendiri di Desa Pangurai, Sumenep. Di pondok itulah Rahmatun besama santri-santri yang lain belajar dan mengaji kitab di Madrasah Muallimin atau setara Madrasah Diniyah dengan sistem halaqah. Materi yang dipelajari waktu itu antara lain ilmu tajwid, tauhid, hahu-saraf, fikih, tarikh Islam, akhlak, dan juga diajari tulis menulis latin.
Tidak berhenti di situ. Setelah berhenti mondok dan menikah, Rahmatun tetap ngasok (belajar secara otodidak) kepada kakak-kakaknya sendiri, di antaranya, belajar tafsir Al-Quran dan Hadis kepada KH Syamsul Arifin Nur yang lulusan Mekkah; belajar fikih dan ilmu alat seperti nahu, i’lal-saraf, dan balaghah kepada KH Abdul Khalik Nur; dan belajar Bahasa Arab dan tarikh Islam kepada K Muhammad Amin Nur. Bahkan, Rahmatun juga tidak gengsi belajar kepada adiknya sendiri yang alim allamah K Abdul Wahid Nur.

Mantab,, sosok yang sangat inspiratif, bukan hanya bagi kaum perempuan saja, tetapi juga bagi kalangan laki-laki juga. Perempuan hebat di waktu yang tepat dan di tempat bermartabat. Pastinya, menunggu bagian selanjutnya.
Oh, ya, jika memungkinkan saya ingin Nyi Milatul Hasanah juga mengangkat sosok Nyi Towan Warits. Sekiranya ta’ Cangkolang,,,
Insya Allah karena beliau masih sapopoh Ny Rahmatun juga. Terimakasih apresiasinya🙏