Nyai Rahmatun (5): Dipersekusi Ulama Radikal

Selama pengungsiannya di desa lain itu, Nyai Rahmatun dan keluarganya diperlakukan secara terhormat oleh penduduk setempat. Bahkan ada yang sampai menawarkan sebuah lahan dan beberapa pohon kelapa dan jati serta alat-alat bangunan lainnya untuk dibangun sebuah rumah bagi Nyai Rahmatun beserta keluarganya sekaligus untuk pesantren.

Mendengar hal itu, Nyai Rahmatun tidak langsung menerima, namun juga tidak menolak tawaran tersebut, mengingat setiap hari dan malam, masyarakat Moncek Tengah secara berbondong-bondong mengunjunginya dan keluarganya dengan membawakan makanan, pakaian, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di saat yang, masyarakat dari desanya terus membujuk Nyai Rahmatun agar kembali pulang ke desa asalnya, dan berjanji akan menjamin keselamatannya. Mereka juga menceritakan bahwa “si ulama radikal” yang mempersekusinya itu sudah berhasil mereka jebloskan ke dalam penjara.

Sementara itu, rumah kediaman Nyai Rahmatun Nur di Desa Moncek Tengah dijaga ketat oleh aparat keamanan (polisi) dan masyarakat, karena dikhawatirkan akan ada pihak-pihak yang bersekongkol dengan “si ulama radikal” untuk memata-matai keadaan sekitar.

Dan seperti yang diceritakan juga oleh Supyati, Atiyah, dan masih banyak lagi, kediaman Nyai Rahmatun itu dipenuhi dengan makanan pokok; seperti gula, beras, kopi, minyak, rokok, telur, kambing, ayam, pakaian, dan juga perabotan rumah tangga yang dibawa oleh masyarakat untuk diberikan kepada Nyai Rahmatun setelah pulang.

“Pokoknya seru,” kata Supyati sambil tetawa sekaligus menangis, mengenang kejadian itu.

Dengan iring-iringan masyarakat Moncek Barat dan Bilapora, akhirnya Nyai Rahmatun kembali pulang ke desa asalnya itu dengan disambut suka cita oleh masyarakat setempat. Dan yang menarik, ada masyarakat yang menyambutnya dengan tabuhan hadrah dan selawat, anak-anak kecil yang menari dan para orang tua yang memasak masakan enak dan banyak untuk menyambut Nyai Rahmatun dan keluarganya itu.

Suasana hangat dan meriah sekaligus mengharukan itu mirip dengan kejadian saat kaum Ansor dari masyarakat Madinah menyambut kedatangan Nabi Muhammad Saw beserta kaum Muhajirin yang hijrah dari Mekah.

4 Replies to “Nyai Rahmatun (5): Dipersekusi Ulama Radikal”

Tinggalkan Balasan