Semboyan kedua itu sangat terkenal dan hampir-hampir menjadi sebuah keyakinan yang mengakar kaut, sehingga kesempatan menempuh pendidikan bagi anak perempuan pada masa itu sangat terbatas. Nyai Rahmatun hadir dengan membawa misi memajukan pendidikan bagi anak perempuan.
Nyai Rahmatun juga mengingatkan kepada masyarakat bahwa masalah jodoh sudah ditentukan oleh Allah, sehingga mereka tidak perlu khawatir. Yang perlu dikhawatirkan, menurut Nyai Rahmatun, yaitu jika perempuan-perempuan muslim tidak mempunyai ilmu. Karena mereka adalah madrasah pertama (madrasatul ula) bagi anak-anaknya nanti. “Saongghunah, se andik kawajiban adidik nak potoh engghi ka’dintoh para oreng sepponah dhibi’. Guruh panikah namung abentoh malaeh.” (Sesungguhnya, yang mempunyai tanggung jawab mendidik anak-anak kita adalah orang tuanya sendiri. Guru hanyalah membantu para tua mengajarkan ilmu). Demikian tutur Nyai Rahmatun.

“Jadi, jika para orang tua terutama perempuan tidak berilmu, bagaimana bisa ia mendidik anak-anaknya untuk menjalankan syariat Islam dengan benar. Padahal seorang ibu mempunyai lebih banyak waktu bersama anak-anaknya ketimbang ayah. Maka sukses tidaknya seorang anak itu tergantung kepada ibunya,” lanjutnya.
Dai yang terkenal mempunyai banyak metode dalam mempengaruhi dan mendekati masyarakat untuk menjadikannya sebagai sasaran dakwahnya ini, juga menyampaikan bahwa banyak sekali ulama-ulama besar di penjuru dunia yang sukses, tidak lain adalah karena didikan ibunya.
Nyai Rahmatun juga menuturkan bahwa kelak di akhirat, para orang tua akan dimintai pertanggung jawaban tentang anak-anaknya, apakah mereka diajari ilmu atau tidak. Sehingga, jika anak-anak mereka tidak bisa salat, tidak bisa ngaji, tidak tahu halal haram, tidak tahu suci najis dan ilmu-ilmu muamalah serta ilmu syariah, maka orang tualah yang bertanggung jawab di hadapan Allah SWT.
Nyai Rahmatun tidak hanya pandai berorasi atau berceramah, beliau juga kerap memberikan contoh keteladanan kepada masyarakat dalam hal perilaku. Salah satunya yaitu ketika beliau membuktikan ucapannya tersebut dengan menyekolahkan dan memondokkan putra putrinya sendiri hingga ke Madrasah Aliyah atau setingkat SMA bahkan sampai kuliah. Namun meskipun mereka bersekolah dan mondok sampai tingkat kuliah, nyatanya mereka tetap menikah dan dipertemukan dengan jodohnya masing-masing oleh Allah SWT. Sehingga anggapan bahwa perempuan yang berseolah tinggi sulit memiliki jodoh seolah-seolah terpatahkan.
Sebaliknya, anak-anak perempuan pedesaan yang menikah pada usia dini tersebut justru tidak jarang berakhir dengan perceraian. Sehingga diantara mereka ada yang melanjutkan sekolah lagi hingga tamat MI bahkan belakangan ada yang sampai menempuh pendidikan kuliah Strata Satu. Dan mereka tetap bisa menikah atau memiliki jodohnya masing-masing pada akhirnya.
Hingga saat ini, Lembaga Pendidikan Islam Tarbiyatul Banat yang dirintis oleh almaghfur laha Nyai Rahmatun tersebut terus bermetamorfosa menjadi lembaga pendidikan yang modern namun berciri khas kepesantrenan. Ia yang terletak di perdesaan tidak kalah bersaing dengan lembaga pendidikan perkotaan. Fasilitas teknologi yang mudah diakses turut serta mendukung majunya lembaga ini untuk terus berbenah. Para alumninya pun banyak yang sukses dan berprestasi di luar daerah. Ia yang pada awalnya hanya tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), sekarang sudah ada Raudlatul Athfal (RA), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan juga Madrasah Diniyah (MD). Dan bahkan berdasarkan keinginan masyarakat, lembaga ini juga menampung santri putra, yang juga tidak kalah jumlahnya dari santri putri.
