Nyai Rahmatun dan Tarbiyatul Banat

Anak-anak perempuan juga bersuka cita karena mereka akan memiliki gedung khusus untuk mereka dan tidak bercampur lagi dengan kaum laki-laki. Sehingga mereka dengan leluasa bisa belajar mengekspresikan diri di lembaga pendidikan tersebut. Yang tidak kalah penting adalah lembaga ini mempunyai kelas-kelas seperti sekolah-sekolah milik pemerintah. Tidak seperti model halakah lagi.

Dengan berdirinya gedung madrasah Tarbiyatul Banat, Nyai Rahmatun berharap agar anak-anak perempuan perdesaan dapat mengenyam pendidikan selayaknya anak laki-laki. Namun hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena nyatanya, pada satu dekade awal, masih banyak para orang tua yang  kurang menyadari arti pendidikan bagi kaum perempuan. Sehingga anak-anak mereka tetap dipaksa menikah dan berhenti sekolah pada usia yang masih belia.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ha itu tidak lantas membuat Nyai Rahmatun tidak putus asa. Beliau terus menggembleng anak-anak didiknya agar termotivasi untuk terus belajar menamatkan sekolahnya meski hanya di tinkat Madrasah Ibtidaiyah (MI). Maka setelah satu dekade lebih, akhirnya usaha Nyai Rahmatun sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil. Karena masyarakat mulai mau menyekolahkan anak-anak perempuan mereka hingga tamat MI.

Sejak saat itu, anak-anak perempuan perdesaan yang biasanya hanya menyelesaikan sekolahnya hingga usia 9-10 tahun atau setara dengan kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah, lambat laun mulai melanjutkan ke kelas di atasnya (meski sambil menikah). Bahkan ada yang sampai tamat (kelas 6).

Hal itu, menurut Nyai Rahmatun, patut disyukuri, mengingat waktu itu anak-anak perempuan tidak mempunyai waktu lama untuk menempuh pendidikan karena keburu dinikahkan oleh orang tuanya.

“Takok tak pajuh” (takut nggak laku), demikian menurut para orang tua murid waktu itu. “Polanah anak bebini’ tak padeh ben anak lake’. Mun lake’ reyah padeh ben emas pa’ lekoran. Seddeng anak bini’ reyah padeh ben emas du lekoran.” (Karena anak perempuan tidak sama dengan anak laki-laki. Kalau laki-laki itu sama dengan emas 24 karat. Sedangkan anak perempuan sama dengan emas 22 karat).

Itulah semboyan masyarakat Madura pada waktu itu, terutama masyarakat pedalaman yang masih terbelakang dalam hal pendidikan. Semboyan tersebut mempunyai arti bahwa anak perempuan harus segera dinikahkan jika sudah ada yang melamar meskipun usianya masih anak-anak.

Menurut mereka, anak perempuan kalau tidak segera dinikahkan ketika sudah ada yang melamar, takutnya nanti tidak laku. Karena dalam adat mereka, tidak ada perempuan yang melamar duluan. Sehingga mereka harus menunggu dilamar. Oleh karenanya, laki-laki dianggap manusia mahal dengan dinisbatkan pada emas 24 karat.

Maka tidaklah heran jika orang Madura mengatakan bahwa anak perempuan itu sama dengan “ngantos gettanah betoh” (menunggu getahnya batu). Artinya, untuk bisa menikah, perempuan itu harus menunggu dilamar. Jika tidak segera menerima lamaran ketika ada laki-laki yang melamar, maka dipastikan perempuan itu tidak akan menikah sampai “kiamat”, alias menjadi perawan tua. Itulah alasan mengapa anak perempuan tidak bersekolah tinggi.

Tinggalkan Balasan