Membangun Kembali Pesantren
Sekembalinya para putra Nyai Syarifah dari pesantren, mulailah digerakkan kembali pendidikan pesantren di Minggirsari. Pada tahun 1948, kegiatan tersebut ditata kembali dengan adanya tingkatan pendidikan semacam madrasah oleh tiga serangkai: Kiai Abdul Qadir, Kiai Yasin, dan menantunya, KH Abu Bakar, dengan nama tetap Minggirsari.

Pesantren Minggirsari pada mula berdirinya mengadakan sistem pendidikan secara sorogan dan bandongan. Saat itu, Kiai Abdul Qadir mengajar sorogan Al-Qur’an, dan Kiai Yasin beserta Kiai Abu Bakar mengajar kitab kuning.
Dalam rangka manajemen waktu, beliau bertiga berbagi tugas dengan baik. Kiai Abdul Qadir yang berhubungan dengan masyarakat, KH Abu Bakar dengan pemerintahan, dan Kiai Yasin berhubungan dengan santri di pesantren. Pola seperti ini tanpa komando, artinya masing-masing tahu posisinya. Ibarat bermain musik, masing-masing dari ketiganya mampu memainkan alat musiknya dengan rancak.
Pada tahun 1962, Kiai Toha kembali ke Minggirsari dari Pesantren Mojosari. Pengelolaan manajemen tetap sebagaimana awalnya, bahkan ditambah satu lagi, yakni urusan pembangunan fisik pondok pesantren maupun masjid yang ditangani oleh Kiai Toha.
Beberapa tahun setelahnya, dimulailah rehab masjid maupun pondok. Pembangunan keseluruhan didanai dari harta Nyai Syarifah peninggalan dari Kiai Jawahir di Dusun Suruh Nganjuk. harta peninnggalan tersebut kemudiab dijual dan diinfaqkan untuk pembangunan pesantren dan masjid. Kemudian, akibat huru-hara politik, di mana terjadi peristiwa pemberontakan PKI, jemaah masjid meningkat secara signifikan. Sehingga bangunan masjid ditambah bangunan baru berupa serambi yang masih terpisah.
Setelah jemaah masjid meningkat, sistem pengajian di pesantren juga mengalami perubahan. Dimulailah adanya tingkatan-tingkatan pengajian yang menjadi cikal bakal berdirinya madrasah. Pengajian ini dilaksanakan pada malam hari dengan pengajaran kajian kitab kuning, yang diampu langsung oleh Kiai Abdul Qadir, Kiai Yasin, Kiai Toha, dan KH Abu Bakar. Adapun para pemuda diajar oleh para santri senior.
Pada tahun 1968, dibentuklah sebuah lembaga dengan nama Madrasah Al-Hidayah, yang masuknya setelah dhuhur setelah sekolah formal. Sementara pengajian di pesantren tetap dilaksanakan pada malam hari. Kelompok pengajiannya ada dua, yaitu kitab dan sorogan Al-Qur’an.
Bermula dari madrasah yang bernama “Al-Hidayah”, lambat laun nama pesantren yang semula bernama Minggirsari juga berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al-Hidayah. Seiring berjalannya waktu, transformasi Pesantren Minggirsari menjadi Pondok Pesantren Al-Hidayah mencerminkan perjalanan panjang perjuangan dan dedikasi para pendirinya. Mulai dari sistem pendidikan sorogan dan bandongan, pembagian peran yang harmonis di antara para dzurriyah, hingga pembentukan lembaga formal seperti Madrasah Al-Hidayah. Semua ini menjadi bukti nyata semangat keilmuan dan pengabdian beliau-beliau, serta tidak terlepas pula dari tirakat Nyai Syarifah.
Kisah perjuangan Nyai Syarifah di balik berdirinya Pesantren Al-Hidayah Manyaran adalah cerminan keteguhan seorang perempuan yang menghadapi tantangan hidup dengan penuh kegigihan dan pengorbanan. Sosok beliau tidak hanya menjadi ibu yang hebat bagi putra-putrinya, namun juga menjadi pelita bagi para santri dan masyarakat sekitar.
Kisah ini semoga menjadi pengingat akan pentingnya melanjutkan perjuangan, menjaga warisan ilmu, dan menghidupkan kembali semangat pendidikan. Semoga pesantren ini kembali menemukan sinarnya dan terus memberikan manfaat bagi generasi mendatang, sebagaimana yang diimpikan oleh para muassis.
