***
Setahun kemudian orang-orang telah melupakan teror dari toa masjid itu, yang memang sudah beberapa lama tak lagi mengabarkan duka. Rupanya pandemi sudah mulai pergi. Orang-orang sudah mulai bergerak, hilir mudik, menjalani kehidupan nyaris senormal sebelumnya.

Jumat siang itu orang-orang sudah memenuhi saf-saf dalam masjid, dari baris depan hingga belakang. Yang datang belakangan hanya kebagian tempat di teras masjid. Bahkan beberapa terpaksa menggelar sajadah di halaman depan masjid. Namun, hingga waktu tiba Jumatan harus dimulai, orang-orang hanya saling pandang. Beberapa orang di saf belakang mencoba melongok ke depan, namun tak terlihat ada yang berdiri.
“Siapa yang bisa jadi khotib?” seseorang akhirnya berdiri, bersuara. “Dan imam?”
Tak ada yang menyahut. Masing-masing hanya saling menoleh ke kanan atau kiri, atau menengok ke belakang. Tak ada satu pun yang berdiri, atau mengangkat tangan. Dan hening beberapa lama.
Setelah berbisik-bisik sebentar, dua orang di teras masjid berdiri, lalu melangkah keluar masjid, dan berjalan ke arah rumah Ahmad Suyanto. Suyanto sedang membuka pintu pagar rumah saat kedua orang tersebut tiba.
“Loh, sudah selesai Jumataannya? Saya ketinggalan ya?”
“Maaf, Pak, malah belum dimulai.”
“Iya, Pak, tak ada yang bisa khutbah. Tak ada yang berani jadi imam.”
“Loh, kok bisa? Jadwal dan gilirannya kan sudah diatur rapi?”
“Tak ada yang tersisa Pak. Semua dibawa pergi Corona…”
Dari balik jendela kamar, Yuni menguping percakapan mereka.
“Masyaallah. Bagaimana nasib masjid kalau tak ada yang tersisa? Ayo cepetan,” Suyanto langsung berjalan cepat sembari mengajak kedua orang tersebut.
“Mari saudara-saudara, Jumatannya kita mulai,” kata Suyanto sambil berjalan di sela-sela jemaah yang duduk rapi di dalam masjid.
Tak lama kemudian suara azan berkumandang, tanda Jumatan dimulai. Dan, setelah sekian lama, inilah untuk kali pertama Suyanto kembali berdiri di mimbar masjid. Seperti dulu ketika sedang berkhutbah, dengan suaranya yang lembut dan tenang, dari atas mimbar Suyanto menyerukan agar semua jemaah terus meningkatkan ketakwaan dan takut hanya kepada Tuhan.
“Takwa itu sederhana. Hanya menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Untuk membuktikan bahwa kita takwa dan takut hanya kepada Tuhan, tak perlu ditunjukkan dengan cara menantang-nantang mara bahaya. Itu kesombongan namanya….”
Khutbah singkat itu segera berakhir. Setelah menjadi imam, tanpa berjabat tangan dengan jemaah yang duduk di dekat pengimaman, Suyanto bergegas melangkah keluar masjid, dan berusaha menghindari beberapa orang di saf-saf belakang yang terlihat ingin bersalaman dengannya. Di belakangnya, berpasang-pasang mata memandangi punggungnya.
Pintu pagar rumah Suyanto berderit. Dari balik jendela kamar, senyum kecil Yuni menyambut kedatangan suami.
