“Kenapa tak minta jatah jadi imam lagi, jadi khotib lagi, Yah?” tanya Yuni saat menemani suaminya bersantai di halaman belakang rumah sembari menunggu gelap jatuh.
“Sudah ada yang lebih baik, jadi kewajibanku gugur,” begitu Suyanto menjawab pertanyaan istrinya.

“Uuhhh…,” Yuni melengos sembari beranjak masuk rumah melalui pintu dapur.
Suyanto tersenyum kecil memandang lenggok bokong istrinya menghilang di balik pintu dapur.
***
Suyanto adalah orang pertama di lingkungannya yang absen ke masjid sejak diketahui virus Corona mulai menular ke mana-mana. Satu-dua, dan kemudian beberapa orang, lalu bertambah banyak orang, juga mulai tak terlihat datang ke masjid.
“Jemaah yang memakmurkan masjid makin sedikit sekarang. Ini pasti terpengaruh Pak Suyanto itu,” kata Sobri, yang rumahnya tak jauh dari masjid. Sobri salah seorang yang punya jadwal menjadi imam salat dan khotib Jumat.
“Mungkin saja,” sahut Kaji Badrun. “Tapi kalau dibiarkan, bisa berbahaya ini. Masjid bisa sepi. Syiar mati.”
Beberapa orang sedang mengobrol di teras masjid selepas salat isya berjamaah pada Kamis malam. Termasuk Sobri dan Kaji Badrun.
“Eh, tapi, masa iya karena Corono dia langsung tak ke masjid,”
“Corona hanya alibi sepertinya. Kan, memang sudah agak lama dia mulai jarang ke masjid. Itu karena kecewa tak lagi dapat jatah jadi imam dan khotib,” kata Sobri.
“Bisa jadi begitu, terus ditambah lagi dia takut sama Corona,” sahut yang lain.
“Begini saja,” Kaji Badrun menyela, “Besok pas Jumatan kita umumkan agar warga tetap ke masjid seperti biasa, baik untuk jamaah salat wajib maupun Jumatan. Masa lebih jiper sama Corona daripada takut sama Tuhannya.”
“Iya, betul itu Kaji. Semua wajib ikut memakmurkan masjid. Ini ibadah, perintah Tuhan,” Sobri menyahut.
Keesokan harinya, menjelang Jumatan dimulai, sebagai sekretaris takmir masjid Kaji Badrun menyampaikan pengumuman sekaligus imbauan sesuai rencana. Semuanya berjalan lancar. Saat salat maghrib dan isya, jumlah orang yang berjamaah semakin banyak, nyaris seperti biasanya. Saat subuh berikutnya juga begitu, yang berjamaah semakin banyak.
Lingkungan itu seakan kembali normal. Seperti tidak ada apa-apa. Seperti tidak ada pandemi. Seperti tak pernah ada imbauan dari pemerintah atau fatwa dari majlis ulama agar orang-orang tetap berdiam di rumah, beribadah di rumah. Masjid tetap ramai. Saf-saf tetap terisi penuh. Suara para pengkhutbah tetap lantang dalam mengajak jemaah untuk terus meningkatkan ketakwaan dan ketakutan kepada Sang Pencipta dan Penentu Takdir.
Lalu sepekan berikutnya seorang jemaah diketahui absen. Beberapa hari kemudian toa masjid mengumandangkan innalillahi wainna ilaihi rajiun…. Tak sampai sepekan kemudian, terdengar lagi dari toa masjid kumandang yang sama. Beberapa hari kemudian ada lagi peristiwa yang sama. Hari-hari berikutnya, dalam sepekan bisa dua atau tiga kali toa masjid tak lagi hanya mengumandangkan azan, tapi juga ucapan bela sungkawa. Suara lantang toa masjid kini berubah menjadi teror. Entah siapa menunggu giliran.
Setelah jumlah jemaah terus menyusut, dan akhirnya masjid pun resmi ditutup, lingkungan di mana Ahmad Suyanto tinggal bak kota mati, seperti di tempat-tempat lain.
