Pahlawan dari Desa

Usai makan, ayah, Kung Herman, serta beberapa orang lainnya sama-sama menghidupkan sebatang kretek. Tidak lupa ada beberapa cerita yang terselip di tengah-tengah kegiatan mereka itu. Sementara aku dan Rudi masih sibuk mengobrol masalah pelajaran, permainan, bahkan percintaan. Ah, dasar anak lelaki memang.

Jam menunjukkan pukul tujuh. Jalanan mulai ramai dilewati orang-orang yang lalu-lalang untuk pergi ke wisata Alam Biru. Kami pun bersiap-siap untuk segera menggalang dana. Ayah membetulkan papan peringatan “Hati-hati ada amal” yang sebelumnya diletakkan di kolong meja. Dan Kung Herman menghidupkan speaker untuk memutar lagu-lagu kasidah. Beberapa orang lainnya sudah siap berada di pinggir jalan untuk menerima uluran tangan para pengendara yang diselipi uang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, tepat sebelum kegiatan menggalang dana dimulai, kami melihat Pak Kades serta dua jajaran desa menghampiri posko mengendarai mobil berplat merah. Mereka menggunakan baju dinas yang begitu rapi. Sepatunya yang mengilat dan kinclong itu menyilaukan mata orang-orang posko ini yang hanya beralaskan sepatu boots lusuh atau sandal jepit yang hampir putus. Mobil Pak Kades berhenti tepat di depan posko. Ia dan dua orang jajaran desa menghampiri kami.

“Bapak-bapak sekalian, saya harap kegiatan ini segera dihentikan. Karena tidak ada laporan sama sekali kepada desa bahwa akan ada kegiatan menggalang dana di sini. Saya harap, Anda semua tidak mempermalukan desa kita,” ucap Pak Kades yang tak disangka-sangka itu.

Awalnya aku mengira mungkin saja Pak Kades ingin menyumbangkan dana dengan nominal yang cukup besar. Namun, apa yang ia ucapkan barusan jelas memberi tahu bahwa ia tak setuju jika kegiatan ini dilanjutkan. Yang benar saja!

“Ngomong-ngomong, siapa yang menjadi ketua panitia?” lanjutnya.

Ayahku yang sedari tadi masih bingung dan terkejut dengan apa yang terjadi langsung maju dan berdiri di hadapan Pak Kades.

“Begini, Pak. Mumpung Pak Kades ada di sini, mari kita bicarakan dulu dengan baik,” ucap ayah pada Pak Kades.

“Bukannya enggan, Pak. Hanya saja, saya ada banyak urusan yang harus diselesaikan di kantor. Jadi, karena Anda adalah ketua panitianya, saya harap ini diselesaikan secepatnya. Ingat kata-kata saya. Jangan sampai mempermalukan desa kita,” tandas Pak Kades.

Setelah itu, tak ada kata-kata lagi. Dan Pak Kades serta dua jajaran desa itu kemudian masuk ke mobil untuk akhirnya meninggalkan kami dengan penuh tanda tanya.

“Braaaakk!!!!” Kung Herman menggebrak meja tempat meletakkan kotak uang.

“Apa-apaan ini. Mengapa baru sekarang dia datang. Mengapa tidak dari kemarin-kemarin saja,” ucap Kung Herman dengan sangat geram. Suasana di posko pun akhirnya cukup riuh. Kulihat wajah ayah tegang sekali melihat keadaan itu.

“Sudahlah, lebih baik kita pulang saja. Hari ini, kegiatan menggalang kita urungkan dulu,” ujar ayah pada semua yang hadir.

Tinggalkan Balasan