Pahlawan dari Desa

“Lah, lalu bagaimana dengan surau tempat anak kita mengaji? Kita musti memperjuangkan kegiatan ini!” Kung Herman bersikukuh untuk tetap melanjutkan kegiatan.

“Sudahlah. Aku yang menjadi ketua panitia kegiatan ini. Akan kuusahakan dulu dan kuurus agar kegiatan bisa terus berlanjut,” jelas ayah yang kemudian diikuti dengan langkah kaki semua orang untuk bergegas pulang. Aku dan Rudi pun berpisah, dan tentunya kecewa karena tidak bisa mengikuti kegiatan menggalang dana ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keesokan paginya, seperti biasa ibu mempersiapkan sarapan pagi. Dan tentunya hari ini ayah juga akan sarapan bersama kami, karena kutahu kegiatan menggalang dana hari ini tidak akan dilakukan. Namun, saat semua makanan sudah siap di meja, hanya ibu yang kutemui di dapur. Ayah tak ada.

“Lho, Bu. Ayah mana? Bukannya sekarang nggak ada kegiatan ya?” tanyaku pada ibu yang sedang mengulek sambal. Sentuhan terakhir untuk sarapan pagi.

“Entah. Barusan katanya mau keluar sebentar. Suruh makan duluan saja kata ayahmu,” terang ibu memberi tahuku. Akhirnya, pagi ini lagi-lagi ayah tak ikut sarapan bersama kami.

Setelah sarapan, ayah tak kunjung datang juga. Aku pun berpamitan pada ibu untuk segera berangkat sekolah. Tak lupa, aku minta uang saku pada ibu.  Andai ayah ada, aku akan pura-pura mengatakan belum diberi uang saku oleh ibu. Dan biasanya ayah akan memberikan uang dengan jumlah lebih banyak dari pada ibu. Tapi sayangnya ayah tak kunjung datang.

Dalam perjalanan, kulihat ada keramaian di kantor kepala desa. Kebetulan jalan menuju sekolah melalui halaman kantor desa. Ada banyak sekali orang yang mengerumuni halaman tersebut. Teringat dengan kejadian kemarin, aku langsung masuk dalam kerumunan itu. Benar saja, ternyata ayah berada di barisan terdepan. Sendirian. Dan kulihat, astaga, wajah Pak Kades terlihat tegang.

“Asal bapak tahu, saya sudah meminta izin pada pak camat beserta seluruh investor yang menggunakan tanah tempat kegiatan posko tersebut. Jika tak percaya, lihat surat-surat ini dengan jeli!” bentak ayah sambil menghamburkan beberapa kertas di hadapan Pak Kades.

“Untuk apa Bapak ikut campur dalam kegiatan kecil ini? Padahal banyak program desa yang sampai saat ini belum terlaksana. Sekarang saya tanya, ke mana uang hasil iuran yang katanya akan dibuat untuk renovasi masjid? Ke mana, Pak? Padahal kami sudah susah payah mengumpulkan uang tersebut, tapi sampai tiga tahun tak ada kabar,” lanjut ayah masih dengan nada yang semakin tinggi.

Para warga yang berkerumun pun ikut bersorak “Betul itu, betul…..” Dan sorakan para warga yang tak ada hentinya itu membuat wajah Pak Kades semakin tegang dan memerah. Sepertinya ia marah, atau mungkin malu.

Di tengah-tengah sorakan itulah, ayah kemudian berbalik badan hendak meninggalkan Pak Kades yang masih mematung. Samar-samar kulihat Pak Kades merogoh tangannya ke dalam saku celana. Dan saat kucoba memicingkan mata, celaka! Pak Kades menggenggam sebuah pisau lipat. Sontak aku berlari menuju ayah, dan tas yang kugendong pun kulempar entah ke mana. Celaka! Pak Kades menggenggam sebuah pisau.

“Ayaaaaaah…!!!”

Sumber ilustrasi: pixabay.

Tinggalkan Balasan