“Kalau besok kamu tidak mengerjakan PR lagi, bukan cuma penghapus dan buku paket yang melayang. Biar saya lempar sepatu sekalian ke kepalamu itu!” bentak Pak Guru Salim.
Suara Pak Guru Salim terdengar kencang sekali. Sampai-sampai siswa kelas sebelah keluar dan mengintip dari jendela demi mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Keluar kamu sekarang! Dasar keparat!”
Dengan perasaan campur-aduk Putro akhirnya bergegas keluar kelas. Khawatir kepalanya jadi sasaran empuk untuk yang ketiga kalinya.
Saat berada di luar kelas, Putro memaki dalam hati, “Hukuman macam apa ini?” batinnya, “Nggak ada klarifikasinya dulu, main hukum seenaknya.”
Pikirannya sudah tak jernih. Ia sangat kesal sekali. Bagaimana tidak? Guru baru yang sok-sokan menghukum padahal tidak tahu masalah yang sebelumnya dialami Putro. Dan lagi, buat apa Pak Guru Salim mencacinya? Seolah Putro hanya menjadi bahan pelampiasan nafsu saja. Lantas, di mana letak seorang guru sebagai teladan bagi siswanya?
Dengan hukuman yang tidak jelas itu, bisa saja Pak Guru Salim mengatasnamakan ‘cara mendidik’ untuk dijadikan dalih kekerasan. Tak adakah cara mendidik yang lebih baik dari pada kekerasan fisik?
Hari itu, pikiran Putro benar-benar kacau. Saat ia berdiri di depan pintu kelas tak sengaja tangannya merogoh saku celana dan menggenggam sesuatu. Ia ingat bahwa sebentar lagi adalah mata pelajaran prakarya. Putro mengeluarkan benda tersebut dan sekilas tersenyum sinis saat mendapatinya. Celaka! Kini setan menguasai pikirannya.
Serta-merta ia membalikkan badan dan membuka pintu. Ketika itu Pak Guru Salim tengah menulis di papan. Para siswa yang awalnya fokus memperhatikan penjelasan, kini mengalihkan pandangannya ke arah Putro yang menatap Pak Guru Salim dengan tajam. Pak Guru Salim yang menyadari kalau Putro masuk ke kelas tanpa disuruh pun menghentikan penjelasannya.
