“Hei! Dasar! Kamu kan saya sur…”
CRAAAKK…

Naas, sebelum Pak Guru Salim menyelesaikan kalimatnya, pisau prakarya yang digenggam Putro sudah lebih dulu menancap di lehernya. Putro melempar pisau itu dengan sangat kuat, sehingga menembus urat pernapasan Pak Guru Salim dan menyebabkannya meninggal di tempat.
Kini, di sinilah Putro berada, di ruang pengadilan yang penuh ketegangan. Dengan tatapan kosong, ia tampak seolah menyesali perbuatannya, atau mungkin malah tidak peduli. Beberapa kali Putro ditanyai oleh hakim namun tidak ada jawaban. Ini sudah pertanyaan yang ketiga. Hingga, di pertanyaan hakim yang keempat…
“Bocah! Kenapa kamu bunuh gurumu sendiri?!”
Putro bangkit sambil menggebrak meja dan berbicara dengan suara lantang.
“Bapak hakim! Kalau guru kencing sambil berdiri, jangan salahkan murid jika kencing sambil berlari!”
Hening. Tak ada suara lagi setelah ucapan Putro itu. Suara tik-tok jam dinding yang terletak di belakang hakim samar-samar terdengar, membuat suasana semakin mencekam.
