***
Kemudian ada Pak Mang atau Mbah Mang. Di atas lahan yang cukup luas, Mbah Mang membangun pondok-pondok untuk santri. Di sela-sela bangunan pondok ada musala sederhana. Tapi, meskipun sudah bertahun-tahun pesantren berdiri, lengkap dengan pondokan dan musalanya, tak ada santri yang mondok di sini. Hanya ada anak-anak sekitar yang mengaji di sini tiap bagda maghrib sampai isya. Yang mengajar mengaji adalah pemuda-pemuda desa yang pernah nyantri di sejumlah pesantren.

Mbah Mang tidak pernah terlihat mengajar mengaji, berceramah, atau bahkan menjadi imam salat. Ia juga tak pernah terlihat ikut salat berjamaah. Masyarakat desa justru mengenalnya sebagai kiai jadzab. Sehari-hari Mbah Mang terlihat seperti orang yang kerjanya luntang-lantung. Berjalan ke sama-ke mari tanpa tujuan yang pasti. Biasanya cuma berkaus oblong warna putih dan bersarung kotak-kotak. Kadang malah telanjang dada dengan kaki beralaskan bakiak.
Tapi orang-orang memperlakukan Mbah Mang dengan penuh takzim. Mbah Mang dipercaya sebagai orang yang waskita, punya karomah, dan doanya mustajab. Karena itu, yang banyak datang bukan santri yang mau mengaji, melainkan orang-orang yang mau ngalap berkah, minta doa dan amalan-amalan.
Jika Mbah Mang terlihat sedang berjalan-jalan tanpa tujuan, orang-orang selalu melihatnya dengan harap-harap cemas. Seluruh gerak-geriknya, polah tingkahnya, gerutuan dan ucapannya, semua dianggap sebagai isyaroh —tergantung bagaimana orang menafsirkannya. Jika kebetulan berpapasan dengan Mbah Mang, orang akan lekas membungkuk, mendekat, meraih tangannya. lalu menciumnya. Lalu berjalan mundur, dan ber-uluk salam.
Begitulah kehidupan dalam lingkungan pesantren Mbah Mank selama bertahun-tahun. Orang-orang percaya, pesantren lumayan besar yang dibangun oleh Mbah Mang itu memang bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Pak Nun, saudaranya yang lain, yang sedang mendalami ilmu agama di Madinah selama bertahun-tahun. Kelak, jika Pak Nun sudah kembali, dialah yang akan menjadi kiai dan mengajar mengaji di pesantrennya Mbah Mang ini. Di situ nantinya ada dua orang kiai, Mbah Kiai Mang dan Pak Kiai Nun.
***
Kemudian ada Pak Mat. Ia tinggal tak jauh dari pesantren Mbah Mang. Rumahnya sederhana, berdinding gedhek. Ia tak memiliki atau membangun pondok seperti saudara-saudaranya yang lain. Di depan rumahnya hanya ada satu musala sangat kecil, juga berdinding gedhek. Hanya digunakan untuk salat keluarga Pak Mat.
