Pak Mat

Tak seperti saudara-saudaranya, sehari-hari Pak Mat seperti orang-orang desa lainnya. Saban hari Pak Mat rajin ke sawah atau ke ladang. Menanam padi di sawah atau bercocok tanam tanaman palawija di ladang-ladang pinggiran hutan. Di belakang rumahnya juga ada satu kandang yang dihuni beberapa ekor kambing. Sepulang dari sawah atau, kadang ditemani anaknya, biasanya Pak Mat memanggul rumput atau dedaunan untuk makanan kambing-kambingnya.

Seperti petani desa pada umumnya, begitulah cara Pak Mat menghidupi keluarganya. Yang membuatnya berbeda, pada hari-hari tertentu Pak Mat mbalah kitab, kitab kuning. Tidak di rumahnya atau musalanya, atau pesantren saudara-saudaranya, tapi justru di rumah-rumah warga. Dalam seminggu bisa dua atau tiga kali Pak Mat mbalah kitab di rumah-rumah warga secara bergiliran.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Entah bagaimana awal mulanya, yang diingat oleh orang-orang adalah saat suatu siang Pak Mat datang ke rumah Mbok Mar. Di sana sudah menunggu belasan orang, kebanyakan ibu-ibu. Beberapa lelaki paro baya atau lebih tua lagi. Mereka duduk melingkar di atas tikar. Di depan mereka terhidang kue-kue basah di atas piring-piring. Juga gelas-gelas berisi teh manis. Ada meja kecil pendek, di atasnya teronggok sebuah mik yang tersambung ke toa.

Pak Mat datang sambil mengempit kitab. Ia mengenakan sarung, baju lengan panjang, dan kopiah hitam. Pak Mat langsung duduk di tempatnya, di belakang meja kecil itu, lalu menaruh kitabnya di meja itu. Mulailah ia membalah, halaman demi halaman, lalu menjelaskan hal ikhwal yang terkandung di dalam kitabnya. Orang-orang yang hadir dengan tekun menyimak setiap kata yang diucapkan Pak Mat. Orang-orang yang tidak ikut berkumpul di rumah Mbok Mar kaget mendengar suara Pak Mat ngaji dari toa.

Sejak saat itu, Pak Mat rutin mbalah kitab, dua atau tiga kali dalam seminggu, dari rumah satu orang ke rumah orang lainnya lagi. Bergiliran. Jemaahnya adalah orang-orang desa, tetangga-tetangganya, yang makin hari makin banyak. Orang-orang juga masih bisa mengikuti pengajian Pak Mat dari rumah masing-masing melalui suaranya yang dipancarkan toa.

Meskipun pengajian mbalah kitab dari rumah ke rumah itu sudah berlangsung lama, bertahun-tahun, hidup Pak Mat tak pernah berubah. Di luar jadwal hari mbalah kitab, Pak Mat tetap rajin ke sawah atau ke ladang atau mengarit untuk memberi makan kambingnya. Tak ada yang berubah di rumahnya. Masih berdinding gedhek, juga langgarnya yang kecil itu. Ia tetap menjalani hidup laiknya para petani desa.

Orang-orang tetap memanggil namanya dengan panggilan Pak Mat. Panggilan itu tak pernah berubah sampai si empunya nama pergi untuk selamanya. Bertahun-tahun kemudian orang-orang juga tetap mengenangnya sebagai Pak Mat, tidak seperti saudaranya yang lain yang memperoleh sebutan Pak Kiai Yut, Mbah Kiai Mang, dan Pak Kiai Nun. Tapi jika kita bertanya kepada orang-orang di sana, siapa yang mengajari mengaji, mata mereka akan menerawang jauh, dan mereka akan memberikan jawaban dengan suara lirih: Pak Mat…

Tinggalkan Balasan