Pancasila dalam Kehidupan Santri

Setiap 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Biasanya, peringatan ini identik dengan upacara, pembacaan Pancasila, dan berbagai kegiatan untuk mengenang perjalanan bangsa. Namun, bagi saya, Pancasila seharusnya tidak berhenti sebagai sesuatu yang kita hafalkan saat upacara. Pancasila justru terasa ketika kita kembali ke kehidupan sehari-hari.

Sebagai santri, kita mungkin tidak selalu sadar bahwa banyak kebiasaan di pondok yang sebenarnya mencerminkan nilai Pancasila. Ketika ada jadwal roan, misalnya. Kita membersihkan lingkungan bersama, meskipun mungkin sebenarnya sedang malas. Ada yang menyapu, mengepel, mengangkat barang, atau sekadar membantu pekerjaan yang belum selesai. Sederhana memang. Tetapi di situlah gotong royong hidup.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di pondok, kita juga bertemu dengan banyak orang yang memiliki kebiasaan dan karakter berbeda. Ada yang berasal dari daerah berbeda, memiliki cara berbicara berbeda, bahkan memiliki cara berpikir yang tidak selalu sama dengan kita.

Tinggal bersama membuat kita belajar bahwa perbedaan tidak selalu harus menjadi alasan untuk menjauh. Kadang kita berbeda pendapat dalam rapat. Kadang ada keinginan yang tidak semuanya bisa diterima. Namun, keputusan tetap perlu dicari melalui musyawarah.

Dari situ, kita belajar bahwa hidup bersama bukan tentang siapa yang selalu menang, tetapi bagaimana kepentingan bersama tetap diperhatikan.

Kehidupan santri juga mengajarkan bahwa Pancasila bukan sesuatu yang jauh dari agama. Menjadi santri berarti belajar menjalankan nilai keagamaan sekaligus hidup sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Menghormati orang lain, membantu teman, menjaga kebersihan, berlaku adil, dan tidak merendahkan perbedaan merupakan nilai yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin karena terlalu sering mendengar Pancasila dalam upacara, kita justru lupa melihatnya dalam kehidupan sendiri dalam keseharian. Kita hafal lima silanya, tetapi terkadang lupa ketika melihat teman membutuhkan bantuan. Kita berbicara tentang persatuan, tetapi masih mudah terpecah hanya karena perbedaan pendapat.

Karena itu, Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya tentang mengingat sejarah. Ia juga menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana nilai Pancasila benar-benar hidup dalam diri kita?

Di pondok pesantren, jawabannya mungkin tidak selalu berupa sesuatu yang besar. Bisa saja jawabannya adalah ketika kita tetap ikut roan meskipun sedang malas. Ketika kita membantu teman yang kesulitan. Ketika kita mau mendengarkan pendapat orang lain. Atau ketika kita memilih menjaga kebersamaan daripada memperpanjang perbedaan.

Sebab Pancasila tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menghafalnya. Pancasila membutuhkan orang yang mau menghidupkannya. Dan mungkin, bagi seorang santri, menghidupkan Pancasila tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Cukup dari hal-hal kecil yang dilakukan bersama, di tempat kita belajar hidup bersama.

Tinggalkan Balasan