Setiap 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Biasanya, peringatan ini identik dengan upacara, pembacaan Pancasila, dan berbagai kegiatan untuk mengenang perjalanan bangsa. Namun, bagi saya, Pancasila seharusnya tidak berhenti sebagai sesuatu yang kita hafalkan saat upacara. Pancasila justru terasa ketika kita kembali ke kehidupan sehari-hari.
Sebagai santri, kita mungkin tidak selalu sadar bahwa banyak kebiasaan di pondok yang sebenarnya mencerminkan nilai Pancasila. Ketika ada jadwal roan, misalnya. Kita membersihkan lingkungan bersama, meskipun mungkin sebenarnya sedang malas. Ada yang menyapu, mengepel, mengangkat barang, atau sekadar membantu pekerjaan yang belum selesai. Sederhana memang. Tetapi di situlah gotong royong hidup.

Di pondok, kita juga bertemu dengan banyak orang yang memiliki kebiasaan dan karakter berbeda. Ada yang berasal dari daerah berbeda, memiliki cara berbicara berbeda, bahkan memiliki cara berpikir yang tidak selalu sama dengan kita.
